Muktamar Seabad Muhammadiyah: Dien Syamsudin Sentil Buta Aksara Moral

0
26

Pewarta-Indonesia, JOGJA – Muktamar ke-46 Muhammadiyah atau Muktamar Satu Abad Muhammadiyah resmi dibuka pada Sabtu (3/7) di Stadion Mandala Krida Yogyakarta. Melalui teleconference dari Madinah, Arab Saudi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) membuka muktamar sekaligus memberi sambutan melalui satelit yang ditampilkan dengan screen (layar lebar) baik di dalam maupun di luar stadion yang dihadiri sekitar 7.000 muktamirin dan dimeriahkan tak kurang dari 1 juta penggembira dari berbagai daerah di Indonesia.

Dalam sambutannya, SBY mengungkapkan, Muhammadiyah dalam memasuki abad kedua harus tetap dapat menegakkan komitmen gerakannya sebagai pembawa misi Islam yang maju. ”Muhammadiyah juga harus mampu menampilkan semangat dan peran Islam yang berkemajuan, serta menjadi organisasi yang memajukan Islam yang ramah dan toleran,” kata Presiden SBY.

Muhammadiyah, lanjut Presiden, “Memang harus selalu tampil di barisan terdepan untuk menjadi kekuatan perubahan yang bersifat transformatif menuju terbangunnya peradaban umat manusia yang utama.”

Presiden juga mengajak warga Muhammadiyah untuk membangun kerja sama yang positif di antara sesama umat Islam, dan dengan umat beragama yang lain bagi kemajuan bangsa Indonesia.

”Sekali lagi saya mengajak Muhammadiyah untuk memelopori ide-ide pembaharuan sebagai pegangan misi Islam yang maju dan tumbuh berkembang dalam menjawab tantangan zaman,” katanya.

SBY juga menyatakan bahwa saat ini Muhammadiyah tidak saja telah menjadi organisasi terbesar di Indonesia. Tetapi juga menjadi salah satu organisasi Islam terbesar di dunia. Gerakan Tajdid yang di Muhammadiyah telah membawa pencerahan umat Islam.

“Memasuki Abad kedua ini Muhammadiyah memasuki fase kemajuan perjuangan, mewujudkan Islam yang rahmat semesta alam,” katanya.

Gerakan Muhammadiyah, menurut Presiden telah membawa pencerahan dan pembaharuan pemikiran umat Islam, sehingga tidak berlebihan apabila dikatakan Muhammadiyah berhasil memperbaharui suasana intelektual kaum muslimin di Tanah Air.

Masalah Mendasar Bangsa

Sementara itu, dalam pidato iftitah saat membuka Muktamar ke-46 Muhammadiyah, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin menengarai masih banyak permasalahan mendasar yang dihadapi bangsa Indonesia, salah satunya yakni buta aksara moral.

“Kami menengarai masalah mendasar masih melanda bangsa, yaitu masih banyak buta aksara moral,” kata Din.

Menurut Din, buta aksara moral lebih bahaya ketimbang buta aksara (baik latin maupun arab). Sebab, buta aksara hanya diderita orang-orang dari kalangan bawah. Dan dampaknya pun tak terlalu besar bagi bangsa ataupun negara. Sementara, buta aksara moral menyerang kalangan elite, orang-orang yang berpendidikan, dan yang punya jabatan.

Fakta buta aksara moral di Indonesia terlihat dengan banyaknya koruptor, makelar kasus hukum, mafia peradilan, makelar pendidikan, dan sebagainya.

Lebih dari itu, Din juga menilai hubungan pemerintah dengan Muhammadiyah akan tetap baik dan proporsional. Artinya, jika pemerintah bersikap baik dan benar dalam menjalankan konstitusi, maka Muhammadiyah tidak akan segan-segan berada di garda terdepan dalam mendukung pemerintah memajukan pembangunan.

“Namun, jika pemerintah menyeleweng dari konstitusi, maka Muhammadiyah tak akan segan-segan memberikan kritik dan koreksi,” pungkas Din.

Pembukaan Muktamar Satu Abad Muhammadiyah di Stadion Mandala Krida Yogyakarta juga dihadiri beberapa tokoh nasional antara lain mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Amien Rais, Buya Syafii Maarif, serta mantan Ketua PBNU KH. Hasyim Muzadi. Hadir pula dalam kesempatan itu, Ketua DPR Marzuki Alie, mantan Mendiknas Bambang Soedibyo dan Malik Fadjar, Muhaimin Iskandar, serta Andi Nurpati. (**)

 

Ket Foto: Ketua PP Muhammadiyah, Dien Syamsudin (kiri) didampingi Ketua Aisyiyah, Siti Chamammah menabuh genderang yang menandai pembukaan Muktamar Satu Abad Muhammadiyah, di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, Sabtu (3/7). ANTARA/Wahyu Putro A