Pam Debat Publik Dinilai Over, Wartawan Dilarang Meliput

0
23

Pewarta-Indonesia, Pelaksanaan event Debat Public yang diikuti oleh 3 pasangan peserta pemilukada Selayar 2010, yang berlangsung di ruang pola kantor bupati Kabupaten Selayar, Minggu (6/6) berbuntut kekesalan dari sejumlah pekerja Pers. Para wartawan dan reporter ini memprotes adanya pelarangan terhadap mereka memasuki arena debat dengan alasan tidak ada undangan, yang memang diakui oleh wartawan bahwa untuk kebutuhan liputan memang wartawan tidak harus menunggu undangan.

“Kami khan memang peliput,”ungkap Megawati, reporter radio lokal yang terpaksa tidak meliput karena dilarang oleh seorang polisi dipintu masuk. “Malah saya sudah menyampaikan, dan sangat tidak mungkin kalau saya disebut tidak dikenal karena saya selalu bertemu petugas tersebut di setiap kali meliput kejadian atau kegiatan di Mapolres Selayar,” imbuh Mega.

Hal serupa juga yang dijumpai pewarta. Diaman, pak polisi yang melarang untuk memasuki arena debat, menjelaskan bahwa situasi dan kondisi rawan, sehingga status siaga satu, ini perintah pimpinan,” ungkap Diaman. Pewarta dengan terpaksa mematuhi larangan tersebut. Panitia pelaksana yang dihubungi tidak mampu memberikan penjelasan.

Pelarangan terhadap beberapa wartawan dan reporter oleh pihak kepolisian sangat disayangkan dan mendapat perhatian serius dari forum wartawan media elektronika Selayar. Pasalnya hal ini merupakan pelanggaran yang diatur dalam UU Pers, yang menyatakan sebagian dan seluruhnya telah menghalang-halangi pekerja pers dalam melakukan peliputan untuk pemberitaan. Didin, salah seorang pengurus Forum ini menyayangkan sikap pelaksana dan pengamanan yang terlalu over proteksi dan kurang memahami tugas-tugas kehumasan dan kejurnalistikan.

“Kami ini bukan musuh para peserta dan bukan musuh yang datang mau mengamuk, kami hanya mau bekerja pak,” ujar Arman, seorang fotografer kepada pihak keamanan.

Pihak kepolisian Selayar terkesan tidak menguasai prosudur layanan public, dan telah melakukan pelanggaran UU Pers dengan menghalang-halangi kegiatan jurnalistik. “Ini bisa dipidanakan dan kami akan menindak-lanjuti aduan reporter kami,” ujar Doni Arfandi, pimpinan redaksi CFM yang reporternya ikut tertahan di pintu masuk dan terpaksa tidak meliput acara tersebut. (lolo silajara)

Sumber image di sini