Penulis PPWI Tembus Perbatasan Negara

0
30

Pewarta-Indonesia, Pagi buta itu masih ditutup kabut. Pepohonan beku dalam peraduannya. Selepas shubuh yang menggigil itu, mata saya mencoba menyapu ke luar, dari rumah salah satu kerabat dekat. Tak terlihat manusia. Memang, pagi itu masih gelap. Agaknya penduduk masih dalam lelap yang masygul. Hanya terdengar kicau burung menari-nari, indah, memanjakan telinga.

Ini hari pertama saya di Pulau Sebatik, pulau perbatasan antara Indonesia dan Malaysia. Pagi sudah mulai beranjak. Matahari sudah menderang, menyinari rumput yang masih basah. Bau tanah terasa nyaman juga di indera penciuman, setelah sekian lama tak merasakannya di ibu kota yang “kotor”. Pagi yang indah sekali. Tidak ada asap. Tak ada polusi.

Rindang pepohonan di sekitar rumah kian menambah malas saya untuk beranjak. Saya mencoba untuk tidur-tiduran. Asyik juga, tapi saya malu juga kalau sampai terlelap. Saya kan tamu. Saya tidur yang terjaga, kira-kira begitulah saya mencoba mengambil istilah.

“Ayo, sarapan dulu,” kata Mulyadi tiba-tiba, teman saya yang sudah menampung saya.

Wow…, segepok pisang goreng. Saya beringsut. Saya tanggalkan baju sholat yang masih melekat selepas shubuh tadi, kemudian menyerbu, melicintandaskan pisang “bohay” tersebut. Sangat orisinil. Pisang yang gemuk, sehat, dan Masya Allah, nikmat sekali.

Pisang goreng nan manis tersebut selesai “secara adat” tanpa ampun, hehe. Mulyadi yang menemani ternyata paham saya penyuka pisang. Dia tambah pisangnya lagi. Kami bertiga saat itu. Teman yang baru saya kenal, namanya Amin dari Flores, tampak beradu juga. Di pagi yang cerah di rumah yang bersambung dengan masjid tersebut pun seolah berlangsung pesta besar. “Habiskan,” kata Mulyadi lagi, nampam kembali di isi untuk yang kesekian kalinya. Perut saya padat. Saya mundur. Selanjutnya hanya bisa menyeruput teh ala Tawau.

Ya, kalau ditanya apa makanan favorit saya, saya akan menjawab “Pisang Sebatik”. Ya, saya tidak main-main, serius. Justru inilah salah satu yang sangat berkesan bagi saya selama beberapa hari memijakkan kaki di wilayah perbatasan yang sempat menjadi wilayah konfrontasi antara Indonesia-Malaysia ini.

Saya tidak lama di Pulau ini. Hanya kurang lebih 2 hari. Namun apa yang saya dapatkan, terutama kesan dan pengalaman, sangat banyak. Saya tidak bisa menuliskan semua di sini.

Nasionalisme Pemuda Sebatik

Saya bersyukur. Sebab dengan kunjungan dengan tempo yang relatif singkat itu, saya bisa melakukan temu diskusi dengan anak-anak muda Pulau Sebatik yang tergabung dalam organisasi Pemuda Sebatik, Himpunan Pemuda Sebatik (HPS).

HPS selama ini dikenal warga Sebatik sebagai gerakan solidaritas yang aktif mewadahi idealisme pemuda cendikia dan remaja di Pulau Sebatik.

Dalam pertemuan ringan tersebut melahirkan konklusi yang sebetulnya, menurut saya, tidak prematur, bahwa warga Sebatik perlu pencerahan publik tentang pentingnya berswasembada dan memandirikan potensi daerah.

Selain membicarakan persoalan internal yang terbilang diskursif itu, HPS juga menyampaikan pesan pentingnya menyuarakan hak dan kepantasan yang mestinya dirasakan warga Sebatik secara umum. Hal itu terkait dengan rencana pembentukan provinsi baru, yaitu Kalimantan Utara (Kaltara).

Ketua Himpunan Pemuda Sebatik (HPS) Bidang Keorganisasian, Andi Jamaluddin, mengatakan pembentukan Provinsi Kalimantan Utara tidak lagi terbatas pada wacana. Tapi sudah dalam tahap realisasi. Entah sudah sejauh mana agenda itu telahterakomidir, saya belum tahu jelas.

“Pemekaran ini, jika memang disetujui pemerintah, tentu saja akan memungkinkan Pulau Sebatik menjadi kabupaten atau kota sendiri. Ini saya kira wajar. Sebatik perbatasan negara,” kata Andi Jamaluddin.

Bincang-bincang yang berlangsung sederhana di Masjid Al Hijrah Sebatik Induk tersebut, dihadiri Wakil Ketua HPS, Muhammad Wahyudin, serta pengurus inti, Faizal, dan Suriyadi.

Mereka juga sepakat, bahwa bukan hanya Pulau Sebatik yang mesti dimekarkan menjadi kabupaten sendiri. Pulau Semenggaris pun, tegas mereka, juga seharusnya dimekarkan.

“Karena melihat potensi dan luas wilayahnya. Ini saya kira sangat potensial. Tinggal sekarang bagaimana membaca eskalasi yang muncul di daerah ini,” tegas Wahyuddin.

Tapi HPS agak pesimistis dengan agenda pemekaran Kaltara akan mulus. Sebab, jelas Andi Jamaluddin, ada banyak kepentingan di balik semua rencana pembentukan Provinsi Kalimantan Utara.

“Saya melihat ada banyak kepentingan. Tapi HPS akan mengawal terus agenda ini,” kata Andi.

Dia juga berharap bahwa harus ada perbaikan pada semua tingkat sistem birokrasi pemerintahan di Kabupaten Nunukan dan Kaltara jika kemudian memang rencana itu teralisir.

“Harus dimulai dari bawah,” harap Andi.

Terjalnya Aral Menuju Bambangan

Ketika mau pulang menuju Kabupaten Nunukan, ada yang belum bisa saya lupakan. Ini mungkin bisa dikategorikan persitiwa, tapi sepertinya saya juga tidak tahu apakah ini bisa disebut begitu.

Saat itu saya menumpang mobil Avanza. Ukurannya standar. Mobilnya masih baru sepertinya, karena masih terlihat jreng, mengkilat, dan belum ada tampak lecet atau gempor yang sifatnya radikal.

Petualangan itu dimulai. Dari Sebatik Induk menuju pelabuhan speedboat kayu di daerah yang disebut Bambangan, kami melewati jalanan yang curam, terjal, kerap hampir menukik, berjejal kerikil tajam, dan jurang di sisi kanan dan kiri. Perjalan ditempuh selama kurang lebih 1 jam. Dan persis, selama itu pula kami melalui jalur “mematikan” tersebut.

Di dalam mobil saya sempat menegur sopir yang memabawa mobil dengan lari yang kencang itu, saya lupa namanya, “Pelan-pelan, Pak” kata saya.

Pak sopir tersenyum saja, tapi matanya tetap awas melihat ke depan. Saya perhatikan sedari tadi, kedua tangannya memang tidak lepas dari kemudi. Konsentrasinya penuh. Saya manusia. Pak Sopir manusia. Bayangan kematian tentu saja ada. Mungkin itu yang tetap membuatnya tetap konsentrasi menghadang onak jalanan.

“Di sini sering kecelakaan dek,” kata sopir. Mendengar itu, saya kaget juga dan berfikir, wajar saja kalau jalannya begini.

Cerita teman saya yang tinggal di Pulau Sebatik yang sempat satu bangku dengan saya ketika SMA dulu, Yahya namanya, jalan ini memang terkenal angker. “Ada setannya,” kata teman saya ini pada kali waktu.

Memang tidak masuk akal. Masak sih ada setanya. Tapi jika melihat sendiri kondisinya, saya juga mengakui itu. Tapi bukan setan dalam arti sesungguhnya yang tidak bisa ditatap. Setan untuk jalanan ini, saya kira, hanya semacam prosa metafor saja. Sesuatu yang dilebih-lebihkan, begitu.

Nama jalur utama untuk menuju pelabuhan ini memang terdengar angker, Bukit Keramat. Dan memang benar-benar keramat.

Alhamdulillah, saya dan beberapa penumpang selamat sampai di Bambangan. Sopir langsung beristirahat di sebuah saung di pinggir bandar. Saya langsung bergeser ke Nunukan, setelah salah satu pemilik speedboat kayu menyambangi saya.

“Ayo kita berangkat sekarang,” katanya. Beberapa penumpang langsung berburu cepat menaiki speedboat jenis “Ketinting” ini.