Rakyat Aceh Berduka dan Kehilangan Tokoh Besar

0
27

Pewarta-Indonesia, Innalillaahi Wainnailaihi raaji’uun

Denmark-Deklamator Gerakan Aceh Merdeka, DR. Tgk. Hasan Muhammad di Tiro telah berpulang kerahmatullah pada hari ini, Kamis(3/6) sekira pukul 12.00 dini hari. Wali Nanggroe Aceh menghembuskan nafas terakhir di ruang Intensive Coronary Care Unit Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin(ICCU-RSUZA) Banda Aceh. Seluruh masyarakat Aceh berduka cita dengan meninggalnya seorang tokoh pahlawan yang paling berjasa terhadap kemajuan perjuangan Aceh. Tak terkecuali, masyarakat Aceh dipengasingan pun merasakan kesedihan mendalam karena kehilangan tokoh penting yang selama ini menjadi kunci suksesnya transformasi Aceh pasca damai Aceh dengan RI di Helsinki pada Agustus 2005 silam.

Warga Aceh di Denmark sedih mendengar berita Wali Nanggroe sudah meninggal. Khabar duka itu begitu cepat tersebar dikalangan masyarakat Aceh yang bermukim di Denmark. Spontan raut wajah para penerima suaka politik asal Aceh yang kini menjadi penduduk negeri Skandinavia ini terlihat jelas dari hari-hari sebelumnya. Kepergian tokoh intelektual dan ahli politik ini menyiratkan banyak makna dimata masyarakat Aceh.

Denmark termasuk negara yang pernah dikunjungi oleh almarhum pendiri Gerakan Aceh Merdeka ini, DR. Hasan Muhammad di Tiro dalam lawatan silaturrahmi dengan masyarakat Aceh pada akhir Desember 2004. Kenang-kenangan bertemu dan berjabat tangan dengan orang yang paling dicari-cari oleh Pemerintah Indonesia masa Orde Baru dan era Pemerintahan Megawati ini masih sangat membekas diingatan. Sekarang pucuk pimpinan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) telah tiada untuk pergi selama-lamanya. Kita,(masyarakat) hanya mampu mengirim do’a, mengenang jasa-jasanya begitu juga ilmu yang pernah diajarinya kepada siapapun bangsa Aceh sehingga terbuka pikiran dan wawasan perjuangan Aceh ”hatta” Aceh sekarang.

Sebagaimana diketahui, orang nomor satu dijajaran GAM ini sudah tiga kali mendapat perawatan secara intensiv di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin, Banda Aceh sejak Desember 2009, April dan terakhir Mai 2010. Pria senior bidang ilmu hukum ketatanegaraan dan hukum internasional itu menderita infeksi paru-paru dan selama sepekan terakhir kondisi kesehatannya menurun drastis. Meskipun usaha pertolongan medis telah dilakukan, namun Allah berkehendak lain. Faktor usianya yang lanjut juga mempengaruhi penyakit tersebut yang tergolong kronis.

Lelaki kelahiran Pidie pada 25 September 1925 ini sebelumnya pernah tiga kali dikhabarkan meninggal oleh Penguasa masa Orde Baru dulu. Berita tersebut telah pernah disiarkan dimedia/surat kabar di Indonesia. Namun semua itu tidak terjadi dan hanya bentuk propaganda Pemerintah Indonesia dan militernya untuk mematahkan semangat perlawanan rakyat Aceh dari mendukung perjuangan pimpinan Hasan Muhammad di Tiro waktu itu. (nai)

Sumber image di sini