Salju Denmark dan Sadeup Aceh

0
26

Pewarta-Indonesia, Turunnya Salju membuat warga Denmark sangat gembira merayakan tahun baru kali ini. Kira-kira dua minggu sebelum tahun baru tiba, salju sudah mulai turun memutihkan bumi Denmark yang subur dan datar. Hingga artikel ini ditulis, salju paling lebat jatuh dari langit (turun) adalah pada Sabtu dan Minggu 9 dan 10 Januari 2010. Ketebalan salju mencapai 50 cm kala itu di beberapa tempat, bahkan di tempat yang lain ada yang melebihi dari ukuran tersebut.

Salju yang begitu banyak pada 2 harian itu telah mengakibatkan ramai warga tidak bisa beraktivitas lebih banyak pada hari Senin, termasuk sulit untuk ke tempat kerja karena jalan-jalan dipenuhi salju. Namun, hal tersebut tidak berlangsung lama. Para pekerja pembersih jalan tak henti-henti bekerja memindahkan salju agar pengguna jalan raya bisa nyaman menggunakan kenderaan masing-masing, sekaligus untuk membuat transportasi lancar sebagaimana biasanya.

Denmark adalah sebuah negara yang berbatasan dengan Jerman. Negara ini disebut juga dengan Scandinavia. Denmark adalah negara empat musim, yaitu musim Vinter (dingin), musim For år (semi), musim Sommer (panas) dan musim Efter år (gugur). Denmark memiliki ukuran luas 43,098.31 km2 dengan jumlah penduduk mencapai 5,532,531 jiwa. 90.5% dari penduduknya adalah bangsa Danish dan 9.5% lainnya keturunan pendatan, antara lain dari German, Sweden, Norwegia, Bosnia,Turki, Arab, Pakistan, Belanda, Kurdis. Pendatang dari Indonesia juga banyak, terutama dari Aceh termasuk di dalamnya.

Gunung yang paling tinggi di Denmark bernama Ydingskovhøj yang letaknya di Skanderborg dengan ketinggian 172 m di atas paras laut.

Denmark merupakan salah satu negara yang amat tersusun administrasinya. Tidak berlebihan jika Denmark dikatakan sebagai negara yang dirancang dengan sangat baik. Setiap keputusan yang diambil di-desain dengan bijak sehingga jelas hasilnya. Yang terpenting adalah bahwa putusan selalu bermanfaat bagi seluruh rakyat untuk jangka waktu yang sangat panjang.

Tidak ada istilah project teman dan project family segera lulus,. Apalagi project selundupan (ata geutanjoe taboeh nan goeb). Hal-hal demikian tidak kedengaran di Denmark.

Nah, kita kembali ke salju lagi. MusimVinter (Salju) tidak menjadi halangan untuk masyarakat Denmark melakukan aktivitas hariannya seperti pabrik, sekolah, butik, kantor pemerintah, rumah sakit, dan bermacam-macam lainnya. Ia tetap bergerak normal, beredar dan berputar seperti biasa.

Bagaimana dengan Aceh? Sangat tidak sesuai untuk kita perbandingkan dengan Denmark, sekalipun Aceh pernah mengukir sejarah kegemilangannya bersama Eropa. Itu hanya tinggal sejarah tempoe doeloe. Kalau kita bicara Aceh Zaman kerajaan atau ”Aceh jameun kerajeun”, maka akan terlihat Aceh kini buram sekali, gelap, suram, tidak memiliki identitas yang jelas, bahkan bendera pun tak ada. Tidak ada lagi prinsip kekhususan. Aceh kini seakan-akan kaku dan carut dan marut.

Sekalipun saya bangga lahir di Aceh, tapi untuk zaman saya hidup tidak ada apa yang bisa ditonjolkan. Sudah tentu tidak ada apa yang bisa di banggakan keculi konflik dan tsunami, itupun karena banyak orang yang mati.

Sesekali saya merenungi, bagaimana Denmark bisa maju, padahal mereka punya musim-musim sulit seperti musim salju, sementara di Aceh dan di Indonesia pada umumnya tidak ada musim seperti ini. Mengapa Aceh bisa ketinggalan sampai ratusan tahun dari Denmark?

Saya terkenang dengan ”sadeup”, alat pemotong padi di Aceh, ”langai” alat pembajak sawah di Aceh. Itu antara lain alat pertanian yang masih dipergunakan sehari-hari di Aceh, tapi di Denmark sudah seratus tahun yang lalu dimusiumkan.

Lucu juga kalau kita pikirkan dengan seksama. Mengapa orang Denmark bisa menggunakan tehnologi maju, tapi orang Aceh tidak? Mungkinkah dilarang undang-undang? Entahlah, karena sekarang Aceh telah menjadi wilayah di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan system “Self-Government”.

Sindal, Denmark

Ada cerita menarik dari Faizal Abdurrahman, salah seorang anak muda kelahiran Aceh yang menetap di Sindal, Denmark. Ia menceritakan tentang Sindal, seperti penuturannya berikut.

Kota ini memiliki sebuah station kereta api sebagai salah satu kemudahan transportasi dan juga punya terminal bus angkutan antar kota. Di kota ini terdapat beberapa keluarga orang Aceh, dan ada beberapa anak muda. Sekalipun sejuk kami tetap berjuang untuk hidup normal seperti warga Danish.

Saat-saat turun salju, indah sekali apalagi bagi saya salju (sne) adalah sesuatu yang baru dalam hidup saya, salju belum pernah saya lihat di Aceh, Denmark ternyata telah memperkenalkan saya lebih banyak yang baru.

Saya terkejut melihat para pekerja pembersih jalan, ketika orang lain masih tidur nyenyak di dalam selimut, mereka diluar sana tetap sabar ikut aturan kerja dalam keadaan minus 11 hingga 12 derajat Celcius. Sesekali terselit juga ingatan, kalau di Aceh mungkin kulkaspun tak sesejuk ini.

Anak-anak Aceh di Denmark pun pada rajin ke sekolah. Mereka tak jadikan salju dan sejuk sebagai alasan untuk tidak hadir.

Memang patut menjadi impian bagi orang-orang yang tinggal di negara yang tak bersalju untuk melihat salju dan memegang salju sekalipun sekali saja dalam hidup. Bahkan bagi orang yang berada di negara-negara di Timur Tengah, hujan saja sudah merupakan impian yang luar biasa, karena hujan jarang turun di sana.

Jadi, salju merupakan hal yang luar biasa bagi orang yang berangan-angan ingin melihatnya. Namun sebaliknya bagi negara seperti Rusia, Denmark kadang-kadang menjadi beban, karena jika salju turun terlalu banyak warga akan sulit bergerak. Aktivitas ekonomi sedikit terhenti. Uang juga terpaksa dipergunakan untuk memindahkan salju dengan truck terutama di jalan-jalan utama.

Keterangan foto: Tarmizi Age, aktivis World Achehnese Association berdomisili di Denmark