Saman dan Onde-onde Aceh di Panggung Global Fair Denmark

0
15

Pewarta-Indonesia, Tarian Aceh nampaknya makin mendapat tempat di Denmark. Hal ini terlihat dari antusiasnya penonton ketika tarian Aceh dipersembahkan oleh Putroe Aceh (Prinsesserne fra Aceh) pada acara Global Fair Jaringan Afrika-Denmark Netværk (A-DN) di Aalborg kota nomor empat terbesar di Denmark.

Dalam acara yang di buka pada sabtu 10.00 pagi 22 May 2010 dan dihadiri warga Denmark serta masyarakat dari berbagai etnis lainnya yang menetap di sana, tidak hanya mementaskan tarian Aceh, tetapi juga beberapa tarian lainnya turut diikutsertakan, seperti tarian Afrika dan lainnya.

Liya Usthaya yang mewakili Putroe Aceh tampil dihadapan menyampaikan kepada seluruh tamu bahwa, kami adalah masyarakat Aceh di Denmark, kami pindah ke Denmark karena dulu ada perang di Aceh, pada ketika itu kami tidak bisa sekolah, kami tidak bisa bermain, kita hidup dalam ketakutan di sepanjang waktu. Tapi kini Aceh telah damai, kami ingin teman-teman kami di Aceh sekarang dapat pergi ke sekolah setiap hari dan gembira sebagaimana kami di sini. Kami berharap kita semua bisa membantu Aceh.

Prof. Mammo Muchie (Aalborg Universitet), Mette Knudsen (Kepala /Afrika Office, Departemen luar Negeri Denmark), H.E LY Djerou Robert (Duta besar Pantai Gading’s) juga hadir sebagai pembicara yang di adakan di ruang terbuka di tengah-tengah kota Aalborg.

Sekalipun acara tersebut di hadiri orang-orang penting negara namun tidak kelihatan ada polisi yang mengawalnya apalagi militer, semuanya berjalan sesuai rencana dan agenda yang telah di susun oleh panitia.

Menurut pernyataan Putroe Aceh yang ditandatangani oleh ketuanya Nurmala Syahabuddin dan dibagikan kepada wartawan dan beberapa pihak lainnya, bahwa pada event ini mereka mempersembahkan tarian Saman Ineng dengan penarinya Nurmala Syahabuddin, Liya Usthaya, Feby Usman, Mardiah Razali, Nurfadilah Razali, Helmiati Jufri, Zaharatul Ilmi Usman, Ayu Andirra M. Taib, sedangkan tarian Ranub lampuan, Bugong Seulanga dan Pengantin Baro penarinya adalah, Muarrifatin Zahrah Zulkifli, Cut Tania Safira Tarmizi, Fitriani Razali, Mahdalina Hamdani, Indra Ivvi Muhammad, Timira Jufri, Aya mutia, Nurbaiti Jufri.

Dalam kesempatan ini bagi membantu para pengunjung untuk mengetahui tentang Aceh para aktivis WAA berinisiatif menampal kliping-kliping media Denmark di Stan Aceh, menjawab pertanyaan-pertanyaan pengunjung dan membagi-bagikan brosur (selebaran) yang bertajuk “Dari Aceh Untuk Dunia membangun dengan pradigma baru” berlatar peta Aceh dan foto Irwandi Yusuf (Kepala Pemrintah Aceh). Selebaran ini dicetak oleh Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal) Aceh.

Bagi kami mempromosikan Aceh untuk masyarakat luar sangat penting, dan diharap ke depan kami dapat melakukan lebih banyak, dan kalau memungkinkan pemerintah Aceh melalui badan Investasi dan promosi Aceh bisa mendukung program peuturi Aceh (pengenalan Aceh) yang kami lakukan secara berterusan teutama di mana negara ada orang Aceh menetap.

Makanan-makanan khas dan kue Aceh seperti bue (nasi), Peucai, timphan asoe kaya, timphan balon, masak puteh(semur), mie, risol, gado-gado, boh rom-rom (onde-onde), cendoi (cendol), perkedel, bakwan, turut di jual di Stan Aceh untuk para pengunjung yang datang menyaksikan Global Fair ini bisa menikmati rasa makanan Aceh.