Sebuah Pelajaran tentang Ras dan Agama bagi Orang Malaysia

0
18

YAM Raja Zarith Idris*)

Pewarta-Indonesia, Kuala Lumpur – Tahun baru sudah dimulai, namun kampanye “1Malaysia” tahun lalu, yang menganjurkan multikulturalisme dan pengertian di antara berbagai komunitas agama dan etnis di seluruh Malaysia, masihlah santer.

Masih adanya kampanye publik untuk persatuan semacam ini dan kekerasan baru-baru ini yang menandai awal tahun keduanya menegaskan bahwa ada sesuatu yang salah di Malaysia: kita telah terobsesi oleh isu-isu remeh tentang ras dan agama.

Tahun lalu, orang-orang Islam membawa sepenggal kepala sapi ke sebuah masjid untuk menunjukkan kemarahan mereka atas pembangunan sebuah kuil Hindu di dekatnya. Dan beberapa minggu lalu, ada upaya membakar gereja-gereja-Gereja Metro Tabernacle di Kuala Lumpur, Gereja Assumption, Gereja Life Chapel dan Gereja Good Shepherd Lutheran, yang semuanya di Petaling Jaya, kota kecil dekat Kuala Lumpur, menyusul kontroversi mengenai penggunaan kata “Allah” oleh orang-orang Kristen di Malaysia.

Kita seolah-olah tengah menghadapi tembok tebal kefanatikan yang disebabkan oleh kebodohan, intoleransi, kecurigaan, pengucilan tetangga kita sendiri dan, ya, bahkan kebencian.

Padahal termaktub dalam al-Qur’an: “Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang lebih baik, kecuali terhadap orang-orang yang zalim di antara mereka, dan katakanlah: Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhan kamu satu, dan hanya kepada-Nya kami berserah diri.” (29:46).

Pada masa hidupnya, Nabi Muhammad juga memperlakukan orang Kristen secara adil. Beliau mengutus dua sahabatnya-Abu Musa al-Asy’ari dan Mu’adz bin Jabal-pergi ke Najran (bagian dari Yaman sekarang) untuk bicara kepada orang-orang Kristen di sana. Pesan Nabi pada keduanya terekam dalam hadist berikut: “Bantulah orang-orang di sana, dan jangan membuat susah mereka, dan sampaikan kepada mereka kabar gembira, dan tak usah membuat mereka benci, dan kalian berdua harus bekerja sama dan saling mengerti; saling mematuhi.”

Setelah Nabi Muhammad wafat, Khalifah Umar bin Khaththab menandatangani sebuah perjanjian damai dengan orang-orang Kristen di Yerusalem, yang menyatakan: “Ini adalah perlindungan yang diberikan oleh hamba Allah, Umar Amirul Mukminin, kepada orang-orang Yerusalem. Perlindungan ini adalah terhadap nyawa dan harta mereka, gereja dan salib mereka, sakit dan sehat mereka, dan untuk mereka semua yang seagama. Gereja-gereja mereka tidak boleh dijadikan tempat tinggal, ataupun dihancurkan. Tidak boleh ada yang melukai mereka ataupun merusak bangunan atau salib-salib mereka. Tidak boleh ada harta benda mereka yang dirusak dengan cara apa pun. Tidak boleh ada pemaksaan kepada orang-orang tersebut dalam hal agama. Juga tidak satu pun dari mereka yang boleh dilukai atas nama agama.”

Akan tetapi, melihat begitu banyaknya masalah yang timbul di antara komunitas agama di Malaysia, tampaknya kita telah melupakan status mulia yang diberikan kepada non-Muslim, khususnya umat Yahudi dan Nasrani, oleh Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Ironisnya, di zaman ketika begitu banyak informasi yang tersedia untuk kita melalui televisi dan internet yang dapat membantu membongkar sekat-sekat yang ada, kita malah semakin paranoid dibanding pada masa dahulu.

Sebagai sesama warga negara, kita dapat memilih untuk melihat kesamaan diantara kita, atau malah fokus pada perbedaan-perbedaan yang ada. Kita dapat memilih untuk tetap bersikap tidak peduli terhadap orang lain, namun kita juga bisa meminta petunjuk dari tokoh-tokoh agama dan pejabat kita untuk membantu memperluas perspektif kita.

Kita punya banyak hal yang patut disyukuri. Negara kita tidak sedang berperang. Tidak ada serangan udara, tidak ada rudal, dan tidak ada bom yang menghujani kita. Sebagian besar keluarga punya cukup pangan yang layak. Kita tidak punya masalah kelangkaan bahan bakar. Rumah-rumah kita tetap utuh. Apakah justru karena kita tidak punya musuh bersama sehingga kita punya banyak waktu dan tenaga untuk merusak tempat-tempat ibadah?

Negara kita tidak dalam keadaan perang, dan masyarakat kita juga tidak semestinya demikian. Mari mulai mengingatkan diri sendiri dan satu sama lain bahwa salamnya Muslim itu punya arti “semoga kedamaian dilimpahkan kepadamu.”

*) YAM Raja Zarith Idris ialah Felo Diraja Pusat Pengajian Bahasa dan Linguistik Universiti Kebangsaan Malaysia, dan ketua Jawatan Kuasa Perkhidmatan Masyarakat Persatuan Bulan Sabit Merah Malaysia.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews): image: google.co.uk

BAGIKAN
Berita sebelumyaMenjalin Silaturahim antara Sinagog dan Masjid
Berita berikutnyaRuntuhnya Bisnis Kepercayaan
Koran Online Pewarta Indonesia atau disingkat KOPI adalah sebuah media massa nasional berbasis jurnalisme warga (pewarta warga) yang dibangun dan dikelola oleh Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI). Pimpinan redaksi KOPI adalah Wilson Lalengke, dibantu oleh ribuan penulis/pewarta lintas profesi, lintas agama, lintas strata sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan lain-lain dari seluruh nusantara dan luar negeri.