Kami Hampir Punah!

0
25

“Sebuah catatan perjalanan bersama LIPI dan Peneliti Asing di pegunungan Mekongga Sulawesi Tenggara”

Keragaman hayati dan keunikan pegunungan Mekongga kembali mengundang para peneliti. Kali ini peneliti asing asal Amerika bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia melakukan penelitian di wilayah pegunungan tertinggi di Sulawesi Tenggara selama kurang lebih sepekan. Para Peneliti asing dan LIPI ini didampingi oleh personil Korps Pecinta Alam Kolaka Indonesia (Korps Citaka).

Siang itu (tanggal 1 Agustus 2009) para peneliti, tim LIPI, dan tim Citaka tiba di desa Tinukari, Kecamatan Wawo, Kabupaten Kolaka Utara. Desa Tinukari adalah desa yang menjadi entry point pendakian menuju puncak tertinggi Pegunungan Mekongga (2620 mdpl). Warga desa menyambut gembira kedatangan para peneliti ini, karena selain penghasilan sebagian warga bertambah dengan menjadi porter, mereka juga sangat senang dapat berinteraksi dengan warga asing yang sangat jarang datang di desa mereka.

Usai melakukan koordinasi dengan kepala desa Tinukari, Bapak Martani, Team yang terdiri dari 8 peneliti Warga Negara Asing, 15 orang team LIPI, dan 6 personil Citaka, langsung menuju base camp Induk atau Pos 1 rute perjalanan menuju puncak. Perjalanan menuju base camp ini memakan waktu sekitar kurang lebih tiga jam. Team beberapa kali harus menyebrangi sungai Ranteangin, beruntung arus sungai tidak terlalu deras mengingat di daerah ini belum memasuki musim penghujan, sehingga perjalanan menyebrangi sungai berjalan mulus. Sungai Ranteangin dengan lebar bervariasi antara 10 hingga 30 meter ini jika di musim penghujan sangat susah disebrangi karena arus airnya meningkat seiring dengan bertambahnya debit airnya.

Setibanya di base camp, team kemudian melakukan persiapan dengan menyiapkan berbagai perlengkapan dan peralatan penelitian. Base camp induk ini terletak di sisi utara percabangan sungai Ranteangin dan sungai Mosembo. Dari Base Camp inilah para peneliti melakukan eksplorasi dan mendata serta mengambil beberapa sampel penelitian di sekitar base camp hingga ke pos 2 rute perjalanan menuju puncak Mekongga.

Peneliti Burung dan Mamalia asal UCDAVIS yang beranggotakan Dr. Andre Engilis Jr., Alan Thomas Hitch, dan Dr. John Alexander Trochet sangat mengagumi keragaman jenis burung di daerah pegunungan Mekongga. “Saya sudah lama belajar dan mengamati berbagai jenis burung di dunia, namun di daerah ini ada berbagai suara burung yang tidak pernah saya dengar, ini menandakan wilyah ini merupakan habitat berbagai jenis burung endemic,” ungkap Jhon kepada penulis.

Yang paling mengagumkan bagi Alan Thomas Hitch, peniliti muda asal California adalah burung endemic Rangkong Sulawesi. Di tempat itu masih terlihat kawanan burung besar ini yang terbang dan hinggap mencari makan di pohon-pohon beringin.

Rangkong Sulawesi atau Aceros cassidix adalah salah burung rangkong terbesar diantara 54 jenis rangkong yang lain di daerah tropis Asia dan Afrika. Bobot tubuhnya sekitar 2.5 kg dengan rentang sayap bisa mencapai 1 m. Kepakan sayapnya ketika akan terbang seperti suara helikopter yang lepas landas, dan ketika gliding atau mendarat menimbulkan suara gemuruh yang khas seperti pesawat tempur. Ketika terbang bunyi sayapnya dapat terdengar sampai 300 meter.

Rangkong Sulawesi atau Aceros cassidix dalam bahasa suku Mekongga yaitu Hoa, memiliki tubuh dan sayap berwarna hitam, ekornya berwarna putih. Dan yang unik adalah sebuah tanduk yang besar diatas paruh, warna merah pada jantan dan kuning pada betina. Paruh berwarna kuning, memiliki kantung biru pada tenggorokkan dengan sebuah garis gelap melintanginya. Leher sang jantan berwarna kuning-jingga, sedangkan betina lehernya tetap berwarna hitam.

Aceros cassidix adalah burung yang paling setia dengan pasangannya, berpasangan hanya dengan satu pasangan seumur hidupnya. Pasangan rangkong memiliki sarangnya sendiri-sendiri bersama anak-anaknya. Selama masa bereproduksi, sang jantan dengan setia bolak-balik ke sarang memberi ransum makanan untuk betina yang setia di dalam lubang. Pada masa tidak bereproduksi, mereka selalu berpasangan walau seringkali bergerombol dengan teman-temannya di pohon. Kedua orang tuanya selalu mendampingi setelah anaknya keluar dari sarang, belajar terbang, dan makan di pohon buah. Memasuki masa kawin berikutnya, sang anak sudah tak lagi berada di dekat orang tuanya.

Saat tidak bereproduksi, rangkong dapat berkelana mencari makan rata-rata 10,5 km per hari, bahkan ada yang mencapai jarak 30 km. Daerah jelajahnya juga bervariasi antara 39,8 sampai 55,8 km. Saat itu pula, rangkong ’melaksanakan’ tugasnya sebagai penyebar benih. Biji dari buah yang dimakan rangkong tidak hancur. Hal itu memungkinkan biji dapat disebarkan cukup jauh dari induknya. Jika rangkong sudah mulai mengepakan sayapnya, lalu meluncur menyusuri hutan, maka biji dari buah yang dimakannya akan disebarkan cukup jauh dari induknya. Sehingga regenerasi dan reforestasi hutan dapat berjalan secara alamiah. Jadi, tentunya sudah kewajiban kita untuk menjaga kelestariaannya dan fungsinya di alam.(sumber : profauna).

Walau statusnya sebagai salah satu satwa yang dilindungi, namun di daerah ini masih banyak perburuan yang dilakukan, begitu juga perambahan dan penebangan pohon-pohon besar yang menjadi habitatnya. Sudah selayaknya sedari sekarang kita menghentikannya.

Selain burung Rangkong Sulawesi, berbagai jenis burung yang terdapat di daerah ini juga terancam punah. Lihat saja, para pemburu burung dengan senapan angin ditenteng sangat sering dijumpai. Bahkan hampir setiap orang yang berkebun di daerah ini memiliki senapan angin.

Selain burung, para peneliti juga meneliti berbagai mamalia lain, seperti tikus dan kelelawar. Walau harus melakukan riset yang mendalam lagi di laboratorium tentang mamalia ini, para peneliti sudah bisa memastikan bahwa terdapat beberapa jenis yang endemic pegunungan Mekongga.

Mamalia lain yang menjadi perhatian adalah Anoa. Anoa adalah hewan khas Sulawesi. Ada dua spesies anoa yaitu: Anoa Pegunungan (Bubalus quarlesi) dan Anoa Dataran Rendah (Bubalus depressicornis). Keduanya suka berada dalam hutan yang lebat. Anoa memiliki sepasang tanduk runcing yang tidak bercabang dan memiliki berat 150-300 kg.

Kedua spesies tersebut dapat ditemukan di Sulawesi, Indonesia. Di Pegunungan Mekongga, spesies yang hidup adalah Bubalus quarlesi. Di Sulawesi Tenggara, hewan ini menjadi kebanggan dengan menaruhnya sebagai lambang daerah dari propinsi ini. Sayangnya kebanggan tersebut tidak dibarengi dengan perhatian pelestarian untuk hewan ini. Lihat saja, hampir sebagian daratan atan Sulawesi Tenggara dikuasai oleh perusahaan tambang nikel, pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit, yang tidak dibarengi dengan upaya perlindungan hewan ini. Tak ada satu tempatpun di daratan Sulawesi Tenggara yang dijadikan wilayah konservasi perlindungan Anoa dataran tinggi, padahal sejak tahun 1960-an Anoa, berada dalam status terancam punah. Diperkirakan saat ini terdapat kurang dari 5000 ekor yang masih bertahan hidup. Anoa sering diburu untuk diambil kulitnya, tanduknya dan dagingnya.

Anoa Pegunungan juga dikenal dengan nama Mountain Anoa, atau dalam bahasa daerah Mekongga disebut Kadue, yang kini kelangsungan hidupnya juga terancam. Jikalau dulu, jejak dan kotoran anoa masih sering kita jumpai di hampir seluruh rute pendakian, kini kita hanya bisa mendapatkannya di rute-rute tertentu seperti di rute ketinggian 1.800 atau atas puncak vaksinium. Ini pertanda populasi mereka semakin berkurang. Betapa tidak, kontrol terhadap perburuan hewan ini, sama sekali tidak ada. Hampir setiap masyarakat di daerah kaki gunung Mekongga masih menganggap anoa adalah hewan buruan yang sangat lezat untuk dinikmati. Bahkan pada waktu-waktu tertentu, seperti menjelang ramadhan, menjelang Idul Fitri atau Idul Adha, atau menjelang berbagai acara pesta, beberapa penduduk desa mulai menjelajahi hutan pegunungan Mekongga untuk berburu Anoa. Dengan puluhan ekor anjing dan tombak pemburu di tangan, para penduduk bisa mendapatkan antara tujuh hinga dua puluh ekor sekali berburu.

Sungguh sangat mengerikan, kelangsungan hewan kebanggan daerah Sulawesi Tenggara ini terancam hanya untuk ketamakan manusia, belum lagi perambahan dan pembukaan lahan untuk kebun coklat semakin merajalela. Rute-rute pendakian yang dahulunya hutan lebat, kini berubah menjadi perkebunan coklat. Habitat Anoa pegununganpun semakin berkurang dan Anoa terancam punah dari bumi Sulawesi.

Selain beberapa mamalia yang menjadi perhatian para peneliti asing dan LIPI, mereka juga mencoba mengungkap keragaman mikroba dan serangga di daerah ini. Dan yang paling mengagumkan dari daerah hutan pegunungan Mekongga ini, adalah keanekaragaman floranya. Danniel Potter, peniliti flora asal Amerika, menyayangkan pembukaan hutan untuk perkebunan coklat di sepanjang pos awal rute pendakian. Menurutnya ini bisa mengancam populasi tumbuhan endemic lainnya yang ada di pegunungan ini, karena masyarakat lain akan berlomba-lomba membuka hutan di sepanjang rute pendakian.

Kali ini Para peneliti flora harus menelan sedikit kecewa, karena beberapa spesies flora tidak dalam musim berbunga, sehingga para peneliti tidak bisa menyaksikan keragaman flora dengan bunga-bunga indah. Namun bagi Dr. Elizabeth A. Widjaja, professor riset LIPI, pegunungan Mekongga adalah habitat yang unik bagi flora yang unik pula. Walaupun belum dapat dipastikan adalah jenis baru, Dr. Elizabeth menemukan satu jenis bamboo yang unik di daerah ini. Menurutnya masih harus proses penelitian selanjutnya. Bamboo yang dimaksud adalah, bamboo yang merambat di tebing-tebing karst di sepanjang sungai Ranteangin.

Survey awal dari para peneliti ini hanya berlangsung hingga tanggal 6 Agustus 2009, namun tiga orang team flora dari LIPI didampingi sepuluh anggota Korps Pecinta Alam Kolaka melanjutkan penelitian hingga ke puncak tertinggi Pegunungan Mekongga sampai tanggal 12 Agustus 2009 untuk mendata dan mengumpulkan beberapa sampel flora yang dijumpai.

Semoga catatan singkat dari kedatangan tim peneliti ini menjadi perhatian bagi semua pihak untuk menyelamatkan keanekaragaman hayatai di pegunungan Mekongga.

Sumber: google.co.uk