Manusia Timpang

0
23

Manusia goncang. Kita sedang goyah, timpang, dan kadang kalap. Relijiusitas -potensi kebertuhanan itu- yang merupakan kebutuhan dasar, pun terkungkung di dalam ragu yang tampak tak berkesudahan.

Kemudian keadaan itu menjembatan secara bersambungan. Bersama aliran haru biru libertarian, kebebasan, anarkisme, perilaku vandal, individualisme, egosentrisme, juga antroposentrisme yang akut. Ya, terlihat memang tak ada deviasi yang pasti.  Pun nilai-nilai teologis pelan-pelan menjadi absurd, tidak penting kemudian.

Manusia seolah telah sangsi dengan peringatan dalam kitab suci. Agama telah terteronggok dalam perolok-olokan dan selanjutnya masuk ke tong sampah. Agama dengan beragam kitab sucinya hanyalah candu kehidupan, demikian kata Nietsche, generasi atheis di adab ke 18 itu.  

Realitas bahwa manusia butuh sandaran, dan ini –sebetulnya, bukan dalam bentuk relasi  interaktif interdependensial antara manusia dengan Tuhan, telah menjadi harapan nisbi yang tak lagi memiliki pengaruh ekstatif.  Justru ia hanya dinarasikan ke dalam prosa retoris, utopis semata.

Kerengkeng itu terlalu kuat, memang. Sulit ditanggalkan. Tentu, tanpa saya bermaksud menggeneralisir opini ini, pola yang ingin saya sebut sebagai neo-pragmatisme ini kemudian melahirkan sistem kontestasi yang luar biasa antar anak manusia. Sehingga representasi akronim homo sapiens, manusia adalah binatang berfikir, nyata telah dipertontonkan.

Homo sapiens adalah watak kebinatangan. Dia memang potensi yang dirasukkan ke dalam gaya hidup manusia sejak awal penciptaannya. Kelak dia yang kemudian menjadi dominan, mengalahkan potensi ketuhanan dan malaikat. Dominasi ini memunculkan kemelut kompetisi yang dahsyat antar anak manusia, untuk saling adu otot dan adu kuat.  Dia berlaku dengan spontan demi untuk memperebutkan posisi-posisi, kekuasaan-kekuasaan, jabatan-jabatan, kursi-kursi, tunjangan-tunjangan, harta benda dan juga wanita-wanita.

Karakter tersebut terus menggerus resistensi iman kita. Tak sedikit yang lena  mengedepankan logika rasionalitas dengan melempengkan tradisi puritan serta berdalih tetap kontekstual dalam alur berfikirnya. Dari situ selanjutnya mereka memunculkan pengertian pengertian baru tentang Tuhan. Akhirnya definisi tentang Tuhan pun menjadi kabur. Multi versi dan distorsi.

Sehingga kemudian lahirlah, misalnya, defenisi bahwa Tuhan adalah figur kabur yang tidak bisa teridentifikasi dengan abstraksi intelektual. Dan pengertian lain tentang Tuhan yang sebetulnya sama sekali tidak menabalkan pengertian dan defenisi utuh tentang Tuhan itu sendiri.

Tapi justru pengertian pengertian itu belakangan melahirkan keserampangan defenisi akan hakikat Tuhan yang sesungguhnya.

Akhirnya, saya sudahi saja tulisan ini walaupun relatif sangat tidak sistematis. Saya tidak bermaksud memberi pengajaran tapi justru sebaliknya, saya menulis karena sedang belajar. Saya mencoba melahap semuanya. Manusia itu ragu. Saya manusia. Saya ragu. Maka izinkan saya untuk mencari jawaban-jawaban dari semua tanya itu. Agar saya tidak menjadi manusia hipokrit. [ain]