Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
Silahkan Login & Kirim Warta

          Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?
Pewarta Online

Yang Terpinggirkan
Gaji Pensiun yang belum Terealisasi Juga.....
21/02/2013 | Husaeni Mabruri

KOPI - Mimpi manis untuk masa depan gaji pegawai pensiunan sipil hidupnya belum dirasakan oleh Bpk. [ ... ]


Gelora Sepeda
“Nongkrong di Haus Berbonus” Raih MU.....
30/06/2013 | Arifin

KOPI - PT ABC President Indonesia menggelar serangkaian kegiatan “Nongkrong di Haus Berbonus”, Minggu pagi (30/6) di Plaza Utara Senayan, Jakarta. Event tersebut diselenggarakan serentak di tiga K [ ... ]



Polling Warga
Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

Yang Terpinggirkan Yang Terpinggirkan Waspadalah, Beberapa Tahun Lagi Kita Harus Membeli Udara untuk Bernafas
Redaksi Koran Online Pewarta Indonesia (KOPI) bersama segenap pengurus dan anggota PPWI se-Indonesia menyampaikan Selamat Menjalankan Ibadah Puasa di bulan Ramadhan 1435 H, kepada seluruh umat Muslim dan Muslimat sebangsa dan setanah air dan di seluruh dunia. Semoga senantiasa dilimpahkan rahmat dan pahala yang berlimpah di bulan suci penuh rahmat ini bagi setiap anak negeri di segenap penjuru nusantara... Amin...

Waspadalah, Beberapa Tahun Lagi Kita Harus Membeli Udara untuk Bernafas

KOPI, Pernah ada yg menulis: 15 tahun yang lalu orang tidak membayangkan bahwa untuk air minum, kita harus membeli air minum dalam kemasan. Sekarang membeli air minum dalam kemasan sudah dianggap sebagai hal yang wajar.

Saat ini, mungkin belum ada yang membayangkan bahwa untuk bernafas, kita perlu membeli udara/oksigen dalam kemasan. Apakah kira2 beberapa tahun lagi membeli udara/oksigen dalam kemasan dianggap hal yang wajar?

Tulisan tersebut sebenarnya sangat menggelitik karena menunjukkan betapa hebat kerusakan alam yang terjadi saat ini. Juga menunjukkan betapa sumber daya dikelola bukan untuk memenuhi kebutuhan manusia dan untuk lebih memanusiakan manusia, tapi semata2 hanya untuk mencapai keuntungan.

Kesadaran tentang kerusakan alam, dimentahkan oleh upaya yang sistematis guna sekedar mencapai keuntungan sebesar-sebesarnya, bukan untuk bagaimana memakmurkan manusia, memanusiakan manusia.

Dalam bahasa keren, itu disebut kapitalisme, yang saat ini sudah berkembang sangat canggih. Tapi dalam banyak hal, sering terjadi orang menyatakan anti kapitalis, ternyata sama sekali tidak tahu apa itu sebenarnya kapitalis. Sehingga, begitu kapitalis dibungkus sedikit saja oleh humanisme, maka mereka menganggap itu adalah hal yang terbaik dan bukan kapitalis. Sebagai contoh, misalnya saat kelaparan melanda Ethiopia, banyak negara yang membantu negara tersebut. Lalu muncullah anggapan bahwa negara-negara donor tersebut adalah negara yang punya prinsip bernegara yang baik. Tapi apakah ada yang bertanya lebih lanjut, sebenarnya kelaparan Ethiopia itu terjadi karena apa? Apakah bukan karena eksploitasi yang berlebihan pada alam dan bangsa Ethiopia, yang mengakibatkan akhirnya Ethiopia mengalami kelaparan dahsyat?

Juga, ada yang berpendapat di negara-negara tertentu yang maju, dikatakan masyarakatnya makmur karena cara mengurus negara sudah bagus, sedangkan negara berkembang tidak bisa maju karena tidak mau meniru cara negara maju dalam mengelola masyarakat dan negaranya. Adakah yang bertanya lebih lanjut, bagaimana negara-negara di belahan dunia sana itu bisa lebih maju? Apakah bukan karena telah sekian abad mengeksploitasi habis-habisan negara-negara dunia berkembang, sehingga masyarakat dan negara dunia berkembang hanya ditinggali sumber daya yang sangat terbatas bahkan mungkin ada yang sudah habis, semuanya sudah diangkut ke negara sana? Dan itu masih berlangsung sampai saat ini.

Maka pertanyaan "apakah beberapa tahun lagi untuk bernafas kita harus membeli udara/oksigen dalam kemasan?" sebenarnya menguji kita apakah kita ini sebagai manusia sudah benar-benar menjadi manusia atau kita hanya beraktivitas jika ada untungnya untuk diri kita saja? Atau, dalam bahasa keren, kita hanya bertujuan mencari keuntungan sebesar-sebesarnya, bukan hidup di dunia sebagai mahluk Tuhan yang berkewajiban untuk memberi manfaat pada alam semesta? Maka, marilah kita mengembalikan harmoni alam dari kerusakan yang ditimbulkan oleh mereka yang mengaku sebagai manusia. Jika kita tidak ingin anak keturunan kita membeli udara/oksigen dalam kemasan untuk bernafas. Marilah kita, baik sendiri-sendiri ataupun secara terorganisir menanam pohon-pohon dimana kita melihat suatu tempat yang memang memungkinkan untuk ditanami. Saya pikir jika banyak dari kita yang melakukan penghijauan, mungkin sedikit banyak kita tidak khawatir bahwa anak cucu kita besok, jika beraktivitas selalu menjinjing oksigen dalam kemasan yang merupakan produk dari sebuah upaya yang hanya sekedar mencari keuntungan sebesar-sebesarnya, bukan memanusiakan manusia, apalagi memenuhi kebutuhan manusia.

Atau kita enggan melakukan itu, karena kita berpikir, langkah melakukan gerakan penghijauan bumi, sebagai kegiatan yang tidak ada untungnya bagi kita? Karena mungkin pemikiran seperti itu sudah dianggap sebagai pemikiran yang wajar/umum? Sehingga berpikir dan bertindak untuk melakukan penghijauan bumi adalah pemikiran yang tidak wajar/nyeleneh?***

 

Copyright © 2008-2013 Pewarta Indonesia. All Rights Reserved.