Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
Silahkan Login & Kirim Warta

          Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?
Pewarta Online

Yang Terpinggirkan
Gaji Pensiun yang belum Terealisasi Juga.....
21/02/2013 | Husaeni Mabruri

KOPI - Mimpi manis untuk masa depan gaji pegawai pensiunan sipil hidupnya belum dirasakan oleh Bpk. [ ... ]


Gelora Sepeda
Fun Bike Meriahkan HUT Ke-69 TNI di Aceh.....
29/09/2014 | Syamsul Kamal
article thumbnail

KOPI, Aceh Jaya - Dalam rangka memperingati hari ulang tahun Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang ke 69, Komando Distrik Militer (Kodim) 0114 Aceh Jaya, mengegelar acara sepeda santai (fun Bike)  [ ... ]



Polling Warga
Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

Yang Terpinggirkan Yang Terpinggirkan Politik (dalam) Ahmadiyah
Redaksi Koran Online Pewarta Indonesia (KOPI) bersama segenap pengurus dan anggota PPWI se-Indonesia menyampaikan Selamat & Sukses atas Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Presiden dan Wakil Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo dan Drs. H. Muh. Jusuf Kalla pada tanggal 20 Oktober 2014. Semoga di bawah kepemimpinan beliau berdua, bersama-sama seluruh komponen bangsa, percepatan pencapaian tujuan bernegara Indonesia akan segera dapat dilaksanakan dengan baik dan lebih nyata.

Politik (dalam) Ahmadiyah

KOPI, Ada sebuah operasi bernama (operasi) “sajadah” di Jawa Barat. Tujuannya, konon, menyadarkan para pengikut Ahmadiyah dari kesesatan serta mendorong mereka untuk bertobat. Prakteknya, orang ramai diajak berbondong-bondong melurug masjid-masjid milik Jemaat Ahmadiyah. Di sana, mereka diperintahkan menggelar sajadah. Logikanya, jika umat Ahmadiyah sudah mau berjamaah lagi, bersama dengan kelompok umat yang lain (diimami oleh non-Ahmadi), maka itulah indikator bahwa para Ahmadiyah itu telah bertobat.

Betapa menggelikan, sesat dan tidaknya seseorang (kelompok) hanya diukur berdasarkan pola pergaulannya dengan masyarakat sekitar. Maka berhati-hatilah, jangan sampai menjadi manusia yang eksklusif, sebab Anda bisa saja memiliki nasib yang sama dengan para Ahmadi. Dus, ukuran kesesatan itu sebetulnya di mana? Dalam eksklusifitas yang kemudian dipahami oleh masyarakat sekitar sebagai meresahkan? Kalau betul begitu, maka betapa sensitifnya masyarakat kita?

Kita sama tahu, Ahmadiyah senantiasa menolak untuk dibedakan dari muslim-muslim yang lain. Bagi Ahmadi, mereka adalah muslim tulen. Nah, jika betul demikian, jika betul Ahmadiyah merasa sama dengan penganut paham keislaman yang lain, mengapakah mereka enggan bergabung dengan pemeluk ajaran Islam yang lazim? Jika tidak betul-betul salah, kenapa musti menghindar dari keramaian? Barangkali seperti ini pola pikir para penganjur “operasi sajadah”.

Belakangan, disinyalir (atau betul-betul ketahuan) operasi sajadah tidak berjalan sesuai dengan yang dicitakan. Operasi yang terbit sebagai konsekwensi larangan Pemda Jabar atas aktifitas penganut Ahmadiyah itu tidak suci dari anarkisme. Masih ada saja tirani mayoritas. Ada masjid yang kemudian diblokir, rumah yang dibakar, kitab-kitab yang diasapi, dan… celaka, organisasi TNI diduga turut campur dengan, umpamanya, membuat pendataan bagi penganut Ahmadiyah dan lantas menggiring mereka menuju ritual pertaubatan. Semua dikerjakan dengan doreng-doreng jersey mereka.

Ahmadiyah memang sebuah kisah pilu…

Terhitung sejak sepuluh tahun yang lampau, kala semua orang merasa memiliki hak untuk berpendapat, kekerasan terhadap Jemaat yang sudah berdiri sejak sekira seratusan tahun lampau di nusantara ini terjadi secara menerus. Perilaku tak elok dipertontonkan secara vulgar dan massif. Ahmadiyah diusik, Ahmadiyah dipukul, Ahmadiyah diusir.

Barangkali memang seperti ini nasib sebuah organisasi yang tak menjadi hitungan secara politis. Ahmadiyah tidak memiliki link-link, atau backing-backing, yang mampu melindungi mereka dari kedahsyatan anarkisme massa. Selain itu, dan inilah yang utama, Ahmadiyah bukan Muhammadiyah, juga bukan Nahdhatul Ulama. Mareka tidak memunyai pengikut berjumlah jutaan. Bahwa Ahmadiyah tidak kerap mempertontonkan aktifitas “politik” di hadapan publik, dan di depan media massa, adalah juga cela. Tidak seperti kelompok-kelompok dengan jumlah kecil yang lain, yang meskipun memiliki anggota dengan jumlah sebanding, menjadi cukup diperhitungkan karena acap menunjukkan akrobat berdaya tawar politis.

Tidak. Ahmadiyah tak punya kekebalan semacam itu. Sehingga jika pun kemudian mereka dibantai, dibakar, diamputasi hak-haknya, para petinggi negara akan tetap diam belaka. Mereka lebih suka melayani kelompok-kelompok besar dengan hitung-hitungan politis yang cukup relevan. Kenyataannya, para petinggi pemerintahan di daerah malah mengambil sikap memusuhi para Ahmadi. Jatim, Jabar, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera. Barangkali cuma Yogyakarta yang secara eksplisit berani mewadahi “orang-orang sesat” ini, meski ancaman konflik horisontal antar anggota masyarakat masih saja membayang di sana.

Ahmadiyah, oh, Ahmadiyah…

Barangkali kebetulan belaka aku tak menjadi salah satu pengikutmu. Kebetulan belaka aku menjadi bagian dari mayoritas. Kebetulan belaka aku tak masuk bagian dalam minoritas yang tak pernah dihitung sepertimu.

 

Copyright © 2008-2013 Pewarta Indonesia. All Rights Reserved.