Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
Silahkan Login & Kirim Warta

          Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?
Pewarta Online
None

Yang Terpinggirkan
Gaji Pensiun yang belum Terealisasi Juga.....
21/02/2013 | Husaeni Mabruri

KOPI - Mimpi manis untuk masa depan gaji pegawai pensiunan sipil hidupnya belum dirasakan oleh Bpk. [ ... ]


Gelora Sepeda
Fun Bike Meriahkan HUT Ke-69 TNI di Aceh.....
29/09/2014 | Syamsul Kamal
article thumbnail

KOPI, Aceh Jaya - Dalam rangka memperingati hari ulang tahun Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang ke 69, Komando Distrik Militer (Kodim) 0114 Aceh Jaya, mengegelar acara sepeda santai (fun Bike)  [ ... ]



Polling Warga
Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

Yang Terpinggirkan Yang Terpinggirkan Mantan Pejuang yang Terlantar
Redaksi Koran Online Pewarta Indonesia (KOPI) bersama segenap pengurus dan anggota PPWI se-Indonesia menyampaikan Selamat & Sukses atas Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Presiden dan Wakil Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo dan Drs. H. Muh. Jusuf Kalla pada tanggal 20 Oktober 2014. Semoga di bawah kepemimpinan beliau berdua, bersama-sama seluruh komponen bangsa, percepatan pencapaian tujuan bernegara Indonesia akan segera dapat dilaksanakan dengan baik dan lebih nyata.

Mantan Pejuang yang Terlantar

altKOPI, Kotabaru - Utuh Jamal, seorang warga RT 4 Desa Langkang Kecamatan Pulau Laut Timur Kabupaten Kotabaru, mengaku berumur sekitar 160 tahun. Dan ia juga mengaku pernah ikut dalam pertempuran melawan Belanda di tahun 1871 saat berumur sekitar 20 tahunan hingga akhir masa penjajahan Belanda di Indonesia.

 

Sekitar setahun terakhir ia hidup sendiri setelah ditinggal istrinya yang bernama Siti Fatimah wafat. Sejak itu ia sakit-sakitan karena sering tidak makan berhari-hari. Ia tinggal sendirian di rumahnya yang berjarak cukup jauh dari para tetangganya. Sehingga tak banyak orang yang mengetahui keadaanya. Begitu pun anggota keluarganya bertempat tinggal jauh diluar desa, seperti seorang anaknya yang tinggal di Asam-Asam Kabupaten Tanah Laut, yang jarang sekali pulang menengok orangtuanya.

Orangtua itu mengalami kelumpuhan.ia tak lagi berjalan menggunakan kakinya,tapi dengan tangan sebagai pengganti kaki. Rumah yang ia tempati terbuat dari bahan kayu ulin. Namun karena umur rumah itu sudah cukup tua, tampak lapuk disana-sini. Rumah tersebut berbentuk rumah panggung dengan kolong setinggi sekitar 1,5 meter dari permukaan tanah. Tak jarang ia tidak mampu naik tangga untuk memasuki rumahnya. Pernah selama 2 hari ia mendekam di kolong rumah, tak mampu naik tangga hingga ada seseorang yang membantunya.

H. Sarkawi Bakri (65) yang seminggu belakangan menemani Utuh Jamal di rumahnya. Menurut H. Sarkawi, waktu itu ia melihat orangtua yang sedang merintih kesakitan di kolong rumah. Keberadaan H. Sarkawi yang merupakan warga Desa Gunung Ulin Kotabaru itu di Desa Langkang adalah memeriksa sawah milik kerabatnya disana. Sejak mengetahui keadaan Utuh Jamal yang tinggal sendirian di rumahnya, H. Sarkawi memutuskan untuk menetap sementara menemani orangtua lumpuh dan sebatang kara itu sambil merawat sakitnya.

Meski penglihatan Utuh Jamal sudah agak rabun, serta pendengarannya yang agak terganngu, ketika ditanya ia pun dapat bercerita tentang masa lalunya. Menurutnya puka, jabatan terakhirnya sebagai seorang pejuang adalah Panglima, namun ia tak merinci sebagai panglima apa. Karena berbicaranya dengan Utuh jamal harus dengan suara yang agak keras. Ditambahkannya, berkas-berkas yang menunjukkan ia sebagai seorang pejuang, pada tahun 1960 ia serahkan kepada Ketua Markas Legiun Veteran Kabupaten Kotabaru. Tak ada penghargaan apapun ia dapat dari hasil perjuangannya seperti orang-orang yang menurutnya pernah bersama-sama berjuang yaitu Mendiang Brigjen Hasan Basri yang diketahui merupakan Panglima Divisi IV ALRI Wilayah Kalimantan.

Utuh Jamal salah seorang sosok yang menderita di masa tuanya. Ia tak mendapat perhatian dari para kerabat, tetangga, serta pemerintah yang tidak konsisten menjalankan amanat UUD 1945 Pasal 34. Kalaulah benar seorang Utuh Jamal adalah Mantan Pejuang, maka anak bangsa ini dapat dikatakan tak tahu berterima kasih terhadap jasa pejuang yang bisa dikatakan seorang pahlawan. Padahal seperti yang sering didengung-dengungkan “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.”

 

Copyright © 2008-2013 Pewarta Indonesia. All Rights Reserved.