Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
LOGIN & KIRIM WARTA

          Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?
PEWARTA ONLINE
None

GELORA SEPEDAJatuh Bangun Nadine Go wes Bersepeda den.....
20/06/2017 | Didi Rinaldo

KOPI, Jakarta – Aktris Nadine Chandrawinata menyukai olahraga seperti  Renang, Menyelam, Senam serta olahraga baru yang kini Ia geluti yakni bersepeda. Ditemui di acara Polygon Follow Your Own P [ ... ]



    POLLING WARGA
    Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
     

    Mengenal Kerajaan 'Sela Cau' di Tasikmalaya

    KOPI - Sebagai putra daerah, terus terang baru kali ini mendengar bahwa di Tasikmalaya ada satu kerajaan yang bernama Kerajaan Sela Cau yang dipimpin oleh Sultan Patra Kusumah VIII yang memiliki nama sehari-harinya ROHIDIN. Latar belakang keberadaan kerajaan Sela Cau tersebut masih perlu diungkap lebih dalam lagi sehingga diketahui kebenarannya dan bukan hanya pengakuan sepihak saja.

    Untuk mengetahui sekilas tentang Kerajaan Sela Cau, hal tersebut pernah dikupas dalam taselamedia.wordpress.com beberapa tahun yang lalu.

    Ditemui di kediamannya di Cagar Budaya Sela Cau, Rohidin yang lebih dikenal dengan Sultan Patra Kusumah VIII dengan lugas dan jelas memaparkan sejarah berdirinya Kerajaan Sela Cau yang berlokasi di Kampung Nagaratengah Desa Cibungur Kecamatan Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat, Rohidin mengklaim dirinya sebagai putra mahkota Kerajaan Sela Cau yaitu Sultan Generasi ke delapan Kerajaan Sela Cau. Menurut Rohidin, dirinya bercita cita ingin melestarikan sejarah dan budaya sunda. “Dasar kami adalah budaya, kami akan memberitahu kepada orang yang belum tahu, dan mengajak warga masyarakat yang merasa orang sunda untuk peduli terhadap budayanya”, ujarnya.

    Terlepas benar dan tidaknya kerajaan Sela Cau ini, berikut penelusuran tentang sejarah keberadaan Kerajaan Sela Cau yang berhasil dirangkum dari petikan wawancara dengan Rohidin (Sultan Patra Kusumah VIII).

    Menurutnya, salah satu pangeran dari Mataram yang dikenal dengan nama ”Embah Gulung Sakti” diutus ke Baghdad untuk berguru kepada “Syekh Ahmad Hirowwi” yang mempunyai anak laki-laki yang sama-sama menimba ilmu dengan utusan dari Mataram tersebut. Di pesantren yang dipimpinnya, Syekh Ahmad Hirowwi mendengar kabar bahwa tanah Jawa adalah Pudatagama Hindu akan tetapi disisi lain Syekh Ahmad Hirowwi mendengar kabar lagi dari tanah jawa bahwa di tanah Jawa banyak pedagang-pedagang keturunan Arab yang berdagang di tanah Jawa yang menyebarluaskan agama Islam. Syekh Ahmad Hirowwi merasa bersyukur ketika “Syekh Datul Kahpi” menetap di Jawa yang nama aslinya “Syek Idlofi Mahdi” tepatnya pada taun 1420 M.

    Ternyata Syekh Idlofi Mahdi, masih keturunan Baghdad juga, termasuk kerabat beliau yang memilih menetap di tanah Jawa tepatnya di Kampung Celanang Gunung Jati dibawah kekuasaan Padjadjaran. Yang sekarang ini menjadi kota Cirebon. Disisi bangga dan rasa syukur, Syekh Ahmad Hirowwi mengutus muridnya yang bernama Embah Gulung Sakti untuk menimba ilmu ke kuala dan berpesan “setelah selesai berguru agar langsung ke tanah Jawa untuk membantu penyebarluasan agama Islam”.

    Embah Gulung Sakti setelah mendapat restu berangkat ke kuala dan menetaplah di sana. Dengan pesatnya pengembangan syi’ar agama Islam di tanah Jawa, maka sampailah informasi ke Syekh Ahmad Hirowwi, terlebih lagi setelah putra dan putri Padjadjaran yaitu RADEN WALANG SUNGSANG dan RADEN RATU RARANG SANTANG serta RADEN PANAMA RASAS yang bergelar “PRABU SILIWANGI” dan “ NYI MAS SUMBANG LARANG” berguru dan menjadi murid Syekh Idlofi Mahdi. Pada waktu itu usianya masih sangat muda, dibanding dengan Syekh Idlofi Mahdi. Dengan informasi itu hati Syekh Ahmad Hirowwi sangatlah bahagia.

    Dengan diketahui istri Syekh Ahmad Hirowwi, dalam waktu yang lama sekitar tahun 1450 M, beliau dikaruniai 5 anak laki-laki dalam kurun waktu 50 tahun. Pada waktu itu putra-putranya sangat rajin dalam memperdalam Agama Islam, setiap kiayi atau Syekh-syekh yang ada di Baghdad di gurui sama putranya, sehingga pada waktu itu Syekh Ahmad Hirowwi usianya sudah sangat tua.

    Pada taun 1510 M beliau menyuruh ke 5 putranya itu, untuk berangkat ketanah jawa dengan diberi amanat untuk memperluas syi’ar agama islam. Dalam waktu 35 tahun mereka berkeliling di tanah nusantara termasuk pulau Jawa dan setelah selesai tugasnya mereka selalu berguru dimanapun berada, termasuk kepada wali-wali yang 9 (Wali Songo).

    Sekitar tahun 1522 M, sampailah ke Cirebon yang masa itu kepemimpinannya dipimpin oleh Sunan Gunung Jati, setelah ketemu dengan Sunan Gunung Jati kelima putra Syekh Ahmad Hirowwi membicarakan suatu hal yang sangat rahasia dengan Sunan Gunung Jati, setelah selesai pembicaraannya dengan Sunan Gunung Jati, kelima putra Syekh Ahmad Hirowwi diutus oleh Sunan Gunung Jati untuk berangkat ke Padjadjaran sebagai pasukan inti dengan misi memperluas agama islam dengan merengkut rakyat Padjadjaran agar masuk agama islam, dan dijadikannya oleh kelima Syekh Ahmad Hirowwi tersebut dalam mempersempit ruang gerak raja Padjadjaran itu, dan mencari kelemahan Prabu Siliwangi atau Raja Padjadjaran yang pada waktu itu sudah diganti dengan “Raja Kanjeng Prabu Surawisesa”.

    Pada waktu itu Sunan Gunung Jati bersama Wali Songo yang lain di antaranya Raden Makdum, Raden Rahmat, Raden Maulana Malik Ibrahim, Raden Saripudin, Raden Syarip Hidayatullah, Raden Ainul Yakin, Raden Umar Sahid, Raden Assahid dan Raden Syekh Jafar Sidik. Kesembilan wali tersebut sepakat memberi gelar kepada para putra Syekh Ahmad Hirowwi dengan gelar “Pandawa Lima”, yang asal mula namanya tersebut dirahasiakan. Nama-nama Pandawa Lima itu diantaranya Raden Patra Kusumah, Raden Arsa Bangsa, Raden Sata Taruna, Raden Patih Dipa Manggala dan Pangeran Bungsu Damiyani.

    Pandawa Lima ini di tugaskan agar merekut orang-orang padjadjaran agar bisa ditaklukan dan masuk agama islam. Dengan perjuangan yang sangat ulet dan tekun, maka Pandawa Lima ini dibantu oleh Wali Songo dan murid-murid pilihan lainnya dalam Agresi Rahasia tersebut maka dalam kurun waktu yang panjangnya sekitar 27 tahun dan perjuangannya itu sangat berhasil, hampir semua keturunan Raja Padjadjaran termasuk dari keluarga putra dan putri raja banyak yang masuk agama islam.

    Pada tahun 1549M/969H, Wali Songo beserta Pandawa Lima ini dan anggota-anggota yang sudah sepenanggungan ini sepakat mendirikan sebuah organisasi yang dinamakan ”Sela Cau” kenapa organisasi itu dinamakan Sela Cau?, karena Pandawa Lima yang anggotanya mempunyani lima yang sangat tinggi, dan Sela Cau di ambil dari ujukan-ujukan musuhnya, yaitu ketika pandawa lima dan anggotanya terseret atau terdesak oleh musuh mereka selalu berlindung di rimbunnya pohon cau sehingga musuh tidak melihat dan, sesuai dengan wilayah tanah pasundan, dari mula dulu sampai sekarang tanah pasundan dipenuhi oleh kebun cau yang ada dimana-mana, dari mulai tanaman rakyat yang pada kebanyakan rakyat itu menanam cau.

    Kata cau adalah: kata yang diambil dari bahasa ”Sunda ” yang berarti ”Pohon Pisang” . dan akhirnya mereka diberi gelar ”Sunan Sela Cau”. Maka gelar sunan sela cau itu abadi, sampai sekarang banyak tokoh atau kiyai yang bertawasul kepada ”Sunan Sela Cau” makanya dalam setiap hajatan dan tasakuran orang-orang selalu menghormatinya atau mendoakan atas jasa-jasanya dan mengharapkan Sari’at, kehormatan atau maunat dari bertawasul kepada ”Sunan Sela Cau” tersebut, yang sangat terkenal kesaktiannya dan kegigihannya dalam memperjuangkan syiar agama islam ini.

    Perjuangan Sunan Sela Cau yaitu: menbangun pemerintah sementara dibawah pimpinan Kesultanan Cirebon, yang pada waktu itu sudah dipimpin oleh “Sultan Pangeran Pasarean” yang didampingi Senopati Patahilah, atau yang bergelar Kibagus Pasai. Itu setelah berakhirnya Agresi Militer atau serangan ke kerajaan Galuh. Wafatnya Raden Ariya Kiban dan Raden Cakra Ningkrat (Raja Galuh) atas perintah Sultan Cirebon, pemerintahan di Galuh diperluas lagi sampai Tasikmalaya, Garut dan Sumedang, dalam memperluas jaringan pemerintah.

    Pemerintah yang dimotori oleh Sunan Sela Cau telah sampai penyebaran atau perluasannya hingga ke Pamijahan Tasikmalaya. Dengan hasil kesepakatan Sunan Sela Cau menetaplah di wilayah Sunan Sela Cau yang berada di sebelah Selatan Kabupaten Tasikmalaya yaitu Kecamatan Parung Ponteng, Kecamatan Sodinghilir dan Kecamatan Bantar Kalong. Selanjutnya Sunan Sela Cau menetaplah di wilayah itu terutama di wilayah Pamijahan yang merupakan bekas salah satu kediaman Sultan Aulia Allah atau ”Syekh Abdul Qodir Djaelani”. Setelah lama menetap di wilayah Sela Cau dengan perjuangan yang sangat panjang, maka terkenallah Sunan Sela Cau itu sampai ke pelosok Nusantara termasuk Mataram dan sekitarnya.

    Maka selama itu Sunan Sela Cau sudah ada pada periode atau jaman kejayaan Wali Songo, sebelum datangnya Syekh Abdul Muhyi ke Pamijahan. Datangnya Syekh Abdul Muhyi ke Pamijahan karena diutus untuk membangun wilayah istimewa Pamijahan. Karena adanya keberhasilan pasukan rahasia yang dipimpin oleh ”Raden Patra Kusumah”, dalam memperluas agama islam termasuk mempersempit kekuasaan Padjadjaran karena pada waktu itu kerajaan Padjdadjaran beragamakan Hindu, setelah Syekh Abdul Muhyi ke Pamijahan dengan berbagai macam rintangan, menurut cerita ketika itu datanglah seorang kakek-kakek bertamu ke Pamijhan yaitu Raden Patra Kusumah dan kebetulan pada waktu itu Syekh Abdul Muhyi berada di masjidil Harom Mekah sedang melaksanakan shalat dekat Ka’bah tepatnya Batu Hajar Aswad karena kesaktiannya beliau tahu bahwa di rumah Pamijahan ada tamu yaitu pemimpin Sunan Sela Cau, dan dalam benaknya Syekh Abdul Muhyi ingin menguji dan mencoba kesaktiannya Raden Patra Kusumah saat itu.

    Selanjutnya Syekh Abdul Muhyi pulang ke rumahnya di Pamijahan dan sesampainya di rumah, Syekh Abdul Muhyi beramah tamah atau menemui Raden Patra Kusumah. Setelah lama bersenda gurau dengan Reden Patra Kusuma, Syekh Abdul Muhyi mengatakan ”maaf sebelum meneruskan obrolan saya ketinggalan tasbih di Ka’bah mau diambil dulu”. Raden Patra Kusumah sudah mengetahui bahwa Syekh Abdul Muhyi menguji dirinya.

    Dengan sikap ramah, Raden Patra Kusumah menawarkan jasa kepada Syekh Abdul Muhyi dengan sambil duduk bersila dan tidak merubah anggota badannya berkata ”biar saya yang mengambilkan tasbih tersebut”, selesai mengatakan hal tersebut ternyata tasbih yang ditinggalkan Syekh Abdul Muhyi di Ka’bah sudah berada di depannya, maka pada waktu itu Syekh Abdul Muhyi berkata ”Maha suci Allah ternyata benar-benar Raden Patra Kusumah itu adalah orang yang Saktimantraguna”.

    Pada waktu itu Syekh Abdul Muhyi sangat muda dibanding dengan Raden Patra Kusumah yang usianya sudah lanjut (senja). Dalam kiprah kejayaan organisasi Sela Cau tersebut, diresmikan pada tahun 969 H, bertepatan dengan tahun 1589 M. Kesimpulan kejayaan organisasi Sunan Sela Cau selama 40 tahun. Menurut cerita usia orang-orang Sunan Sela Cau mencapai rata-rata di atas 200 tahun.

    Beberapa hasil Karya Sunan Sela Cau diantaranya :

    · Membangun pemerintah dan menbuka lahan pertanian dan pertambangan wilayah Sela Cau.

    · Menata pemerintah Galuh Ciamis dan Tasikmalaya, dan menetapkan Raden Semplak Wajah di Galunggung atau yang terrenal “Galuh Agung”.

    · Membangun pemerintah baru dan mengangkat Adi Pati Pertama di wilayah huni dan sekitarnya yang menurunkan keturunan Sukapara Ngadaun Ngora.

    · Membangun pusat pemerintah di Talag Sumedang setelah Raden Arya Salingsingan dibawa ke Cirebon karena beragamakan Budha.

    · Membangun pusat pemerintah Bupati dan Adiptai di Betawi setelah pengusiran Portugis masa Raja Padjadjaran Prabu Surawisesa, dan pada akhirnya tanah Pasundan didominasi agama islam setelah Prabu Surawisesa dan organisasi Sela Cau mengadakan kesepakatan di Bogor Batu Tulis, maka Prabu Surawisesa memperluas agama hindunya ke tanah “Kute Bali” karena secara politik di tanah tatar Pasundan sudah terdesak oleh Agresi Sunan Gunung Jati yang termasuk anggota Sunan Sela Cau. Pasukan inti yang sangat dirahasiakan itu sampai Semarang ini banyak kalangan yang menyembunyikannya karena dulunya pasukan yang Sangat Rahasia.

    Beberapa Situs-Situs peninggalan Sela Cau diantaranya :

    · Gua Rangga Gading yang berada di desa Cigunung Kecamatan Parungponteng Tasikmalaya.

    · Gua Karaton yang berada di dalam Gunung Karang Lenang Desa Cigunung Kecamatan Parungponteng Tasikmalaya.

    · Kursi Dewan Musyawarah yang berada di Gunung Cipalinter Tasikmalaya.

    · Batu Goong yang berada di Gunung Goong Angsana Tasikmalaya.

    · Batu Benne yang berada di Gunung Citalahab Tasikmalaya.

    Rohidin atau Sultan Patra Kusumah VIII menginginkan Sela Cau dijadikan Wilayah Istimewa seperti Wilayah Kesultanan lainnya di Jogjakarta.


    Artikel Lainnya:

     

    Heboh Tentang Cucu Jokowi
    Rabu, 30 Januari 2019

    KOPI, Jakarta – Cuitan Hidayat Nur Wahid dalam postingan @kun Twitter miliknya, ia menuding cucu Joko Widodo Jan Ethes menjadi alat kampanye. Dalam cuitannya tersebut, ia menuliskan bahwa Jokowi sengaja menjadikan Ethes sebagai alat kampanye. "Ini Jan Ethes yg pernah sebut @jokowi, kakeknya, sbg “Artis” ya? Tapi bgmn kalau ini jadi legitimasi pelibatan anak2 dlm kampanye? Bgmn @bawaslu_RI masih bisa berlaku adil kah?" tulisnya. Ditempat... Baca selengkapnya...

    PK Diajukan Tiga Kali Di Kasus Yang Sama, MA Tabrak Aturan?
    Rabu, 23 Januari 2019

      Foto: (ki-ka) Danny Siagian, Manahan Sihombing, Mangalaban Silaban, Sugiono KOPI, JAKARTA - Menurut pasal 66 ayat 1 UU No. 14 Tahun 1985 menyebutkan, permohonan Peninjauan Kembali (PK), diajukan hanya satu kali. Namun kenapa dalam kasus tanah Grant Sultan Deli, Medan milik ahli waris Datuk Muhamad Cheer (Dt. M. Cheer) di Mahkamah Agung (MA) bisa hingga 3 (tiga) kali? “Kenapa PK bisa sampai 3 (tiga) kali untuk kasus yang sama di... Baca selengkapnya...

    Luhut ke Riau : Kesibukan Presiden Jokowi, Saya Mewakili Membagikan Sertifikat Prona ke Masyarakat
    Kamis, 17 Januari 2019

    KOPI, Jakarta- Kunjungan kerja (Kunker) Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman Republik Indonesia Luhut Binsar Panjaitan ke Propinsi Riau, (Rabu 16 Januari 2019) dalam rangka tugas negara. Agendanya yaitu Kunjunga kerja ke Kawasan Industri Tenayan (KIT) kota Pekanbaru serta mewakili Presiden Joko Widodo membagikan 1500 sertifikat tanah Prona Gratis kepada masyarakat . Ribuan orang masyarakat Riau memadati Gelanggang Olahraga Remaja... Baca selengkapnya...

    Menjelang Peringatan 23 Tahun Tenggelamnya Kapal Fery KMP Gurita
    Rabu, 16 Januari 2019

    KOPI-Jakarta, Kapal fery KMP Gurita tenggelam pada tanggal 19 Januari 1996 di teluk Balohan Sabang. Tidak terasa sudah 23 tahun kapal fery KMP Gurita yang naas itu tenggelam di dasar laut dan hilang untuk selama-lamanya, termasuk kedua orang tuaku. Kapal fery KMP Gurita yang kapasitasnya hanya untuk sekitar 210 orang, ternyata memuat 378 orang. Dari jumlah penumpang 378 orang, hasil riset dari Riset Independent dan PUSPIATUR (Pusat Sejarah... Baca selengkapnya...

    IKUTILAH..!! Kappija-21 Selenggarakan Essay Contess 2018-2019
    Kamis, 10 Januari 2019

    KOPI, Jakarta – Keluarga Alumni Program Persahabatan Indonesia-Jepang Abad 21 (Kappija-21) sedang menyelenggarakan lomba menulis atau Essay Contess 2018-2019. Kegiatan ini ditaja dalam rangka memeriahkan 60 tahun Hubungan Diplomatik Indonesia dan Jepang tahun 2018 yang baru saja berlalu.   Tujuan utama lomba menulis terkait Indonesia dan Jepang tersebut adalah untuk menumbuhkan minat baca, minat mengetahui, dan minat menambah... Baca selengkapnya...

    LL Dikti Wilayah III Sebut PDPT Universitas Mpu Tantular Bagus di Acara Wisuda
    Senin, 31 Desember 2018

    Foto: Senat Universitas Mpu Tantular dalam acara pelantikan wisudawan-wisudawati KOPI, JAKARTA Di acara Wisuda Universitas Mpu Tantular (UMT) Tahun Akademik (TA) 2018/2019, yang dilangsungkan di Balai Sudirman, Jakarta Selatan, pejabat Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL Dikti) Wilayah III (dulu Kopertis-red) sebut laporan Pangkalan Data Perguruan Tinggi (PDPT) UMT, sudah beres dan bagus. “Yang kami ketahui, bahwa laporan PDPT... Baca selengkapnya...

    Adakah Kejahatan Hukum Ketua MA di Kasus Tanah Grant Sultan?
    Senin, 24 Desember 2018

    Foto: Saat persidangan pihak Ahli Waris menuntut PT Taman Malibu Indah di PN Medan KOPI,JAKARTA Mahkamah Agung Republik Indonesia adalah Pengadilan Negara Tertinggi dalam tingkat kasasi, dari seluruh putusan pengadilan sebelumnya, yang secara otomatis menjadi pamungkas dari segala putusan hukum di Negara ini. Sementara hukum yang katanya menjadi panglima untuk menyelesaikan permasalahan hukum, menjadi koridor yang digunakan untuk... Baca selengkapnya...

    INTERNASIONALTerkait Kasus Penculikan, Keluarga Menun.....
    30/01/2019 | Redaksi KOPI

    KOPI, Rabat - Situs media online www.futurosahara.net menerbitkan sebuah artikel tentang Ahmed Khalil, salah satu anggota utama kelompok separatis  [ ... ]



    NASIONALMantan Kapolri Jenderal (Purn) Polisi Aw.....
    01/02/2019 | Rachmad Yuliadi Nasir

    KOPI-Jakarta, Khabar duka datang dari Mabes Polri. Salah seorang petinggi Polri yaitu Awaloedin Djamin telah wafad. Beliau adalah Mantan Kapolri d [ ... ]



    PENDIDIKANDua Siswa PPWI-Gambatte Septian serta .....
    27/01/2019 | Didi Rinaldo

    KOPI, Jakarta - Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia (Kemenaker) bekerjasama dengan International Manpower Development of Japan (IM Japan) s [ ... ]



    EKONOMIRefleksi Awal tahun 2019 Bea Cukai Aceh.....
    16/01/2019 | Rachmad Yuliadi Nasir

    KOPI-Jakarta, Memasuki awal tahun 2019 maka Bea Cukai Aceh memandang perlu memaparkan hal-hal yang terjadi belakangan ini. Dalam acara Bincang San [ ... ]



    HANKAMKapolri Jendral (Pol) Tito Karnavian, .....
    29/01/2019 | Didi Rinaldo

    KOPI, Jakarta Dikomplek Mabes Polri, Aula Rupatama hari (Senen, 28 Januari 2019) prosesi kenaikan pangkat kepada dua belas Perwira Tinggi (P [ ... ]



    OLAHRAGAIPSI Banda Aceh Target 4 Mendali Emas.....
    09/11/2018 | Rachmad Yuliadi Nasir

    KOPI-Jakarta,Banyak olahraga yang digemari oleh setiap orang. Salah satunya adalah cabang olahraga pencak silat. Wadah yang menaunggi pencak silat [ ... ]



    PARIWISATABerwisata ke Danau Toba Waka BIN menanam.....
    03/02/2019 | Feri Ndraha

    KOPI - Parapat, Untuk menjaga keasrian Danau Toba dan sambil menikmati indahnya Danau Toba, Letjen TNI Teddy Lhaksmana WK , Wakil Kepala Badan Intelig [ ... ]



    HUKUM & KRIMINALDPR Pertanyakan Terkait SP3 Kasus Bos Pe.....
    29/01/2019 | Didi Rinaldo

    KOPI, Jakarta - Wakil Ketua Komisi III DPR Erma Suryani Ranik mempertanyakan keputusan Bareskrim Polri telah menerbitkan Surat Perintah Penghentian Pe [ ... ]



    POLITIKCapres Prabowo Sindir Menkeu Sri Mulyani.....
    30/01/2019 | Didi Rinaldo

    KOPI, Jakarta - Calon Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto kembali melontarkan komentar kontroversi, Ia mengatakan Menkeu Sri Mulyani sebagai  [ ... ]



    OPINIRamalan Satria Pinitil : Pilpres Indones.....
    08/01/2019 | Didi Rinaldo

    KOPI, Jakarta – Pemilihan Presiden (Pilpres) Indonesia hampir sama/mirip dengan Pilpres negara Amerika Serikat. Orang menjawarakan mengembor-gembo [ ... ]



    PROFILKompol Arvin Haryadi Jabat Kapolsek Si.....
    25/10/2018 | Didi Rinaldo

    KOPI, Siak Hulu - Pisah sambut Kapolsek Siak Hulu dari Kompol Dedi Suryadi kepada Kompol Arvin Haryadi, S.ik, SH bertempat di Mapolsek Siak Hulu, keca [ ... ]



    SOSIAL & BUDAYAPlt Bupati Kampar Catur Sugeng Hadiri Pe.....
    21/01/2019 | Didi Rinaldo

    KOPI, Sei Kijang Tapung Hilir - Rasa senang dan bahagia berada di tengah orang tua kami, Ninik mamak dan para pemangku adat yang ada di Kenagarian Tap [ ... ]



    ROHANITerlantarkan Jemaah, Kemenag Cabut Izin.....
    05/01/2019 | Didi Rinaldo

    KOPI, Arabsaudi - Pemerintah melalui Kementerian Agama, langsung merespons cepat keluhan dua puluh lima orang jamaah umroh yang ditelantarkan Penyel [ ... ]



    RESENSIHeboh Buku Fire and Furry Ungkap “ D.....
    05/01/2018 | Didi Rinaldo

    KOPI, Washington DC- Heboh buku Fire and Fury ungkap “Dapur Gedung Putih” Menjelang Pemilu Pilres Amerika Serikat . Dilansir dari The Guardian, R [ ... ]



    CERPEN & CERBUNGSuami Genjot Becak, Istri Malah Kena Gen.....
    08/10/2018 | Didi Rinaldo

    KOPI - Memang tak ada undang-undang yang melarang tukang becak beristri cantik, karena semua itu tergantung rejeki dan kelihaian lobi masing-masing. M [ ... ]



    PUISIMenatap Rasa.....
    07/06/2017 | Mas Ade

    Masih di bulan Juni Angin mendatangi jendelaku Bisikkan rindu yang basah Oleh hujan bulan Mei Meski embun tetap nyenyak dalam tidurnya Mendekap s [ ... ]



    CURAHAN HATIWaspada !.. Modus Penipuan Wajah Palsu, .....
    28/11/2018 | Didi Rinaldo

      KOPI, Pekanbaru - Beraneka macam modus penipuan muncul era digitalisasi ini. Sasaran utama adalah oknum orang yang  melek/tak bisa memakai inter [ ... ]



    SERBA-SERBIRenungan 14 Tahun Tsunami Aceh.....
    16/01/2019 | Rachmad Yuliadi Nasir

    KOPI-Jakarta, Tidak terasa sekarang telah memasuki waktu 14 tahun terjadinya gempa bumi dan tsunami Aceh. Peristiwa hebat itu terjadi pada 26 Desember [ ... ]



    Copyright © 2008-2013 Pewarta Indonesia. All Rights Reserved.