Kiat Membikin Foto Jurnalistik bagi Fotografer Amatir

Pewarta-Indonesia, apa menariknya dibandingkan tulisan? Foto, apa keunggulannya? Orang yang buta huruf, pastilah tidak bisa membaca tulisan. Sedangkan orang yang buta huruf, tentu masih bisa menikmati keindahan sebuah foto. Artinya jangkauan karya foto lebih universal ketimbang karya tulis. Ia tidak perlu diterjemahkan dalam bentuk kata-kata atau bahasa. Cukup dengan foto, semua orang sudah bisa menangkap makna sejati di balik foto tersebut. Nah, jadi kekuatan foto itu terletak pada gambarnya itu sendiri.

 

Mari kita bahas tentang dunia fotografi dalam waktu yang sekejab ini. Berita foto adalah karya jurnalistik yang mengandalkan pada foto-foto yang diambil oleh para fotografer. Pada zaman modern ini, di mana sekarang handphone saja bisa digunakan untuk memotret, kemudian harga kamera digital semakin murah bahkan hanya mencapai Rp 500 ribu, semakin memudahkan bagi siapapapun juga menjadi fotografer. Fotografer adalah orang-orang yang menghasilkan karya foto dengan bantuan alat pengambil gambar seperti kamera, handphone, laptop dan alat pengambil dan penyimpan foto lainnya. Para jurnalis online juga berhak menampilkan karya foto mereka untuk dipublikasikan di berbagai media massa cetak dan elektronik. Di dunia penerbitan, dikenal beberapa jenis foto berdasarkan fungsinya dalam pemberitaan. Yakni foto dokumentasi dan foto jurnalistik (foto berita).

 

Sebagai pelengkap artikel atau berita, foto yang ditampilkan bersifat melengkapi atau dikenal juga sebagai ilustrasi. Ada foto ilustrasi pasif dan ilustrasi progresif. Sebagai contoh artikel mengenai keindahan Indonesia dapat menampilkan foto pemandangan sawah yang menghijau atau bisa juga dengan menampilkan Gunung Merapi. Ilustrasi foto ini masuk dalam kategori ilustrasi pasif. Bila artikel/berita menyinggung masalah transportasi di Jakarta, lantas ditampilkan foto kemacetan lalu lintas di Jalan Malioboro Yogyakarta, inilah foto ilustrasi progresif. Foto berita adalah sebuah foto yang dapat berdiri sendiri hanya dengan sebuah caption ringkas, namun sangat deskriptif. Sehingga mampu menginformasikan banyak perihal pesan yang disampaikan melalui pemotretan objek dalam foto berita tersebut. Foto macam ini disebut sebagai foto yang bernilai jurnalistik.

Contoh, foto seorang mahasiswa yang mengekspresikan wajah histeris di tengah kerumunan demonstran dengan latar belakang aparat keamanan yang dengan sangkur terhunus mengusir demonstran. Biasanya foto jurnalistik akan menempati halaman terdepan pada sebuah surat kabar, yang luasnya bisa 4-5 kolom. Bagi para jurnalis, foto jurnalistik model di atas pasti menjadi berita foto headline. Cukup spektakuler untuk dapat menjadi fokus berita edisi hari tersebut. Agar menghasilkan foto berita yang bermutu baik, diperlukan dukungan kemampuan memotret melalui penguasaan teknik pemotretan. Di samping itu pengalaman menguasai medan sesuai situasi di lapangan juga sangat penting.

Dalam menghadapi kondisi chaos, seorang fotografer harus mampu menggunakan keterampilan memotretnya untuk menguasai keadaan, sehingga dengan situasi macam apapun tetap dapat menghasilkan gambar yang memenuhi kriteria jurnalistik. Beberapa hal perlu dikuasai secara khusus, di samping kemampuan teknik standar seperti pemilihan bukaan rana, menentukan kecepatan yang sesuai serta pengambilan jarak terhadap objek. Hal-hal khusus ini meliputi pemanfaatan momentum yang datangnya kadang-kadang mendadak, spontan dan sangat singkat. Seperti dalam olahraga misalnya, peristiwa bobolnya gawang kesebelasan yang sedang bertanding merupakan momentum yang selalu dinantikan para fotografer atau wartawan olaahraga. Tetapi mereka juga tidak tahu kapan momentum tersebut akan terjadi. Kondisi khusus lain menyangkut teknik penentuan sudut pemotretan (angle).

Pengambilan gambar yang frontal kurang memberi efek dramatis dan tidak menampilkan dimensi yang membuat foto tersebut “bernyawa”. Menyangkut penguasaan teknik pencahayaan, gradasi cahaya yang dapat diprediksi pemunculannya dalam gambar, juga akan memberi nuansa dramatis yang ikut menentukan kadar mutu sebuah foto bernilai berita atau tidak. Untuk menjadi seorang wartawan foto profesional memang tidaklah mudah. Di samping membutuhkan talenta yang kuat, juga harus dibarengi dengan motivasi dan penguasaan keterampilan untuk menunjang pengembangan kariernya.

Jam terbang yang cukup lama dalam menggeluti sebuah profesi merupakan bukti ketekunan dan keuletan dari seseorang dalam mengabdi kepada tugasnya sebagai seorang fotografer profesional. Dengan demikian, dapat disimpulkan sejumlah tips membuat berita foto yang bermutu baik bagi para calon fotografer adalah: o Memahami alat kerja kamera dan alat pengambil gambar lainnya. Hal ini dilakukan untuk memudahkan bagi setiap pewarta warga dalam mengoperasikan kamera yang dimiliki. Bagi para jurnalis online tidak usah muluk-muluk memiliki kamera sebagaimana model kamera besar yang dimiliki para fotografer olahraga

Cukuplah bermodalkan kamera digital yang super murah, sudah bisa diandalkan dalam menghasilkan berita foto yang menarik.

o Memahami teknik, komposisi dan sudut pandang pengambilan gambar, sehingga mampu menghasilkan karya foto yang mempunyai nilai berita. Kalau kamera yang dimiliki para calon jurnalis hanya kamera digital yang kemampuan bidikannya terbatas, maksudnya hanya bisa mengambil gambar dengan jarak maksimal tidak lebih dari 8 meter, maka mereka harus pandai-pandai dalam mengambil momentum dan kefokusan. Dengan cara demikian, mereka harus “berperang” dengan jarak pendek, karena kemampuan kamera yang terbatas tersebut. Maksudnya jarak antara objek/subjek yang dibidik dengan posisi pembidik (fotografer) harus relevan dengan jarak toleransi di atas.

o Selalu berlatih melakukan pengambilan foto tanpa pernah mengenal bosan. Dan harus muai dari sekarang mempublikasikan setiap hasil karya fotonya ke berbagai media massa. Itulah tiga tips yang bisa dipraktikkan para jurnalis dengan menghasilkan foto-foto yang memiliki nilai berita. Selamat berlatih menjadi seorang fotografer andal...(*)

 

Yogyakarta, 31 Mei 2012

NB: sumber tulisan ini berasal dari hasil sharing pengalaman dengan Gunawan K. Wibisono, wartawan senior Rakyat Merdeka (Jawa Pos Group) dan pengalaman pribadi.

 

*) Supadiyanto, fotografer, makalah ini saya presentasikan dalam Workshop Jurnalistik dan Fotografi di Auditorium Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM) pada Sabtu, 02 Juni 2012